Belajar Mendengar


Dalam kuliah umum di kampus yang mengabil tema "Politik Melayu Islam: Kemelut dan Penyelesaian", saya betul-betul belajar menjadi pendengar. Tan Sri Muhyidin Yasin, Menteri Industri dan Perdagangan Antarabangsa memukau para hadirin dengan menyodorkan masalah politik Melayu. Sayangnya, beliau membatasi pada peran UMNO dan mengenyampingkan partai dan kelompok lain. Tentu, politisi dari Johor ini mempunyai hitungan tersendiri.

Memang tidak ada yang baru dari kuliah yang disampaikan, karena isu seperti Melayu tergugat setelah kekalahan Barisan Nasinal pada pemilu ke-12, kontrak sosial, dan dasar ekonomi baru telah banyak dibahas di media. Alih-alih saya mendapatkan banyak ide baru, malah calon orang nomor dua dalam UMNO ini melakukan kampanye dan propaganda. Saya heran mengapa ISDEV Fakultas Ilmu Kemasyarakatan sebagai pihak penyelenggara meloloskan program kuliah semacam ini. Namun, saya merasa lebih tenang ketika dalam sesi pertanyaan ada banyak penanya yang mencoba menggugat keadaan yang dianggap tidak adil, meskipun tampak seorang penanya memprovokasi keadaan dengan menyinggung secara tidak langsung Datuk Seri Anwar Ibrahim sebagai pemimpin tidak layak karena dianggap penerus kaum Nabi Lut. Ada rasa tidak nyaman di kalangan peserta kuliah dengan pertanyaan tendensius ini.

Namun, ini adalah ikhtiar yang patut dihargai karena selama ini perbincangan politik tidak pernah diadakan secara terbuka di kampus. Paling tidak, meskipun memberikan keuntungan pada pihak berkuasa, oposisi bisa menuntut hal yang sama untuk berbicara di universitas agar mahasiswa bisa menyerap banyak perdebatan yang sehat.

Comments

Popular Posts