Rumah Masa Depan




Inilah rumah masa depan itu. Namanya Anjung Budi. Sebagai rumah alumni, ia diniatkan sebagai tempat untuk beragam kegiatan. Pemilihan nama lokal diharapkan mengukuhkan bahasa sebagai identitas, bukan nama berbau asing, seperti Eureka, nama sebuah gedung di depan masjid Kampus, Jelas Prof Madya Talhah Idrus dalam sambutannya sebagai ketua Perhubungan Alumni. Menurut dosen arsitektur tersebut, bangunan tersebut berdiri berkat bantuan dari banyak pihak, baik gagasan maupun bahan. Malah, tambahnya, orang nomor satu kampus, Prof Dzulkifli turut memberi perhatian pada pembangunannya sejak awal.

Ia tidak hadir begitu saja. Ada banyak perbedaan dalam mewujudkannya, seperti jenis pohon yang akan ditanam, desain, dan pernak pernik yang lain. Namun, semua itu tidak menghalangi untuk menggapai mimpi bersama, rumah bagi para alumni. Dengan menghadirkan aksesoris kayu berwarna coklat, nuansa tradisional menyeruak. Selain ruman induk, bangunan ini juga mempunyai halaman belakang yang bisa digunakan untuk ruang pertemuan. Malah, acara peresmian pada tanggal 25 Maret kemarin diselenggarakan di sini. Dari tempat duduk, kami bisa melepaskan pandangan ke laut yang diiringi rumput, kolam renang dan pepohonan. Angin semilir berhembus karena ia berada di ruang terbuka.

Satu hal yang ditekankan oleh Prof Talhah bahwa konsep bangunan itu mengacu pada kelestarian lingkungan (sustainable development), sebuah ide yang sedang dikembangkan secara menyeluruh di kampus yang berjuluk kampus dalam taman ini. Hampir seluruh kegiatan di kampus diikhtiarkan untuk mewujudkan sebuah lingkungan yang memberi perhatian yang dalam terhadap ramah lingkungan. Tentu, kesadaran ini pelan tapi pasti akan menjadi arus utama sehingga dengan sendirinya seluruh gerak gerik warga yang ada di dalamnya mencerminkan keyakinan bahwa alam ini perlu dirawat agar tidak musnah.

Penegasan sebagai tempat kegiatan yang tidak terbatas pada program alumni tentu menjadikan tempat ini favorit karena letaknya paling strategis dan dari sana kita bisa menikmati pemandangan. Acara peresmian yang dihadiri banyak orang itu terkesan santai dengan suguhan makanan lokal. Band musik mahasiswa tahun 70-an Tabula Rasa menjadikan suasana semarak. Tentu, ia semacam nostalgi bagi pegawai dan dosen yang hadir pada waktu itu. Saya sendiri mungkin tak bisa segera menyantelkan kenangan karena saya berada di dunia lain, namun suasana akrab tentu mengenyahkan perasaan asing.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode