Menafsirkan Kembali undamentalisme

Duta Masyarakat, 1 April 2009

OLEH : AHMAD SAHIDAH, Research Assistant Staff dan kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam, Universitas Sains Malaysia

Gagasan di atas diilhami oleh hermeneutika Georg-Hans Gadamer ketika merehabilitasi prasangka (vorurteil) yang dituduh oleh Pencerahan sebagai tembok besar yang menghalangi pemahaman yang terbebaskan dari dogma. Bagaimanapun, prasangka adalah keniscayaan dalam sebuah penafsiran dan namun demikian harus beranjak kepada proses selanjutnya, yaitu kemungkinan terkondisinya pemahaman yang melibatkan eksistensi penafsir dan sejarah masa lalu.

Wacana fundamentalisme, meskipun bukan baru, selalu menyeruak ke permukaan bersama semakin menguatnya organisasi keagamaan partikelir di tanah air. Mereka menuntut penegakan nilai-nilai keagamaan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lazimnya, sebagian sarjana mengaitkan gerakan ini sebagai kepanjangan dari cita-cita pemikir keagamaan yang acapkali dilabeli fundamentalis, sebut saja Sayyid Qutb, Hasan al-Banna dan Abul A'la al-Maududi.

Boleh jadi, label ini dicomot begitu saja dari kategori yang diberikan para pakar atau peneliti, yang secara tidak langsung merupakan analogi terhadap gerakan pemurnian di kalangan agama Kristen Barat. Kaum fundamentalis adalah kelompok yang ingin membebaskan agama dari campur tangan rasionalisme dan mengedepankan pengertian harfiah dari kitab suci. Meskipun tokoh dan pengikutnya hanya segelintir, namun suara kerasnya acapkali menghentak banyak kalangan.

Di sini, saya hanya ingin mencoba menafsirkan kembali sosok Sayyid Qutb yang secara serampangan selalu dicap fundamentalis sehingga menghalangi pembaca untuk menaruh apresiasi terhadap pemikiran tokoh Mesir ini. Bagaimanapun, lebel ini selalu diidentikan dengan tidak rasional, naif, dan efifenomenal. Paling tidak, penelitian Roxanne L Euben terhadap Kritik Fundamentalis Islam terhadap Rasionalisme membantu kita menguraikan lebih jauh di mana sejatinya posisi sang martir ini di dalam peta gerakan keagamaan.

Dekonstruksi Fundamentalisme

Pembacaan Euben terhadap karya Qutb mengantarkan dia pada keyakinan bahwa sosok yang mati di tiang gantungan ini menyangkal teori kedaulatan politik modern yang bertumpu pada sekulerisme dan imperialisme. Tesis Qutb adalah jika akal dijadikan sumber kebenaran, pengetahuan dan otoritas, maka ini berakibat pada penyangkalan terhadap dasar transenden yang menyebabkan bencana kemanusiaan, yang menggerus komunitas, otoritas dan secara khusus moralitas.

Ketergesaan meringkus gagasan Qutb ke dalam pemikiran patologis dan mereduksinya sebagai bentuk frustasi, tambah Euben, menghilangkan kesempatan untuk memahami praktik politik fondasionalis. Padahal, beberapa teoretisi politik Barat mempunyai pandangan yang sama dengan Qutb tentang visi modernitas yang mengalami krisis dan pembusukan, meskipun bersikap berbeda bagaimana menyembuhkan penyakit ini.

Tentu kesamaan ini bisa dipahami karena gagasan Qutb juga menimbang ide para filsuf Barat, seperti Plato, Aristoteles, Descartes, Bertrand Russell, Comte, Marx, Hegel, Fichte dan Nietzsche. Dari sini, kita boleh menyimpulkan bahwa mata pedang kritik bisa diarahkan ke mana saja ketika ada satu 'kuasa' yang mengebiri kemajuan, peradaban dan keadilan sejati. Ia tidak dihunjamkan kepada liyan (the other) karena alasan primordialisme.

Bahkan, kebebasan yang menjadi penyangga bagi peradaban Islam, dalam pandangan Qutb, mengandaikan kebebasan yang dirumuskan oleh Isaiah Berlin, sosiolog, sebagai positif dan negatif. Yang pertama, bebas dari ketundukan pada kekuasaan tirani dan sekaligus kebebasan untuk tunduk pada Tuhan, dengan menanggalkan dominasi nafsu. Kebebasan di sini sekaligus menegaskan kesetaraan, yang ini hanya mungkin diwujudkan di bawah kedaulatan Tuhan.

Selain itu, yang perlu dicermati bentuk kedaulatan yang diinginkan tidak dijelaskan secara konkrit. Beliau hanya menyatakan bahwa masalah yang muncul ke permukaan harus diselesaikan melalui musyawarah sebagaimana dianjurkan di dalam al-Qur'an (Ali 'Imran: 159). Dengan kata lain, bentuk negara dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan. Malahan tugas utama negara yang perlu mendapatkan perhatian adalah terciptanya keadilan sosial. Komunitas yang ada di dalamnya bertanggungjawab untuk melindungi anggota masyarakatnya yang lemah. Pandangan progresif ini acapkali terlupakan oleh bahkan para pengagumnya di sini.

Memang, Qutb mengkritik keras Konspirasi Zionis dan Kristen, yang dianggap sebagai bentuk xenophobia oleh Euben, tetapi beliau menegaskan bahwa masyarakat Islam yang berkeadilan dicirikan oleh keragaman, sebuah kondisi inklusif yang dibangun atas dasar pluralitas sejarah, kebudayaan dan identitas. Semuanya ini disatukan di bawah hubungan yang setara di hadapan sang Khaliq. Secara tersirat, pernyataan ini menerima keragaman internal umat Islam, yang tentu saja menolak upaya penyeragaman yang belakangan ini ingin dipaksakan sebagian kelompok.

Islam Otentik

Robert D Lee dalam Overcoming Traidition and Modernity: The Search for Modernity menyetarakan Sayyid Qutb dengan Mohammed Arkoun yang sama-sama mencari otentisitas Islam di tengah ketidakseimbangan modernitas Barat yang diterapkan di Timur. Bagaimanapun, fundamentalisme Sayyid Qutb adalah respons terhadap modernitas dan kritik intelektual terhadap liberalisme. Secara tegas keduanya memperjuangkan al-ashalah (otentisitas).

Tetapi, mengapa banyak sarjana moderat cenderung menegaskan Arkoun dan menafikan Qutb? Bisa dikatakan ini terjadi karena otentisitas yang diperjuangkan yang pertama melibatkan elit dan yang kedua melibatkan massa. Tak terelakkan, massa mudah mengundang kerumunan yang gampang dikendalikan dan pada masa yang sama lepas kontrol. Sementara elit lebih asyik bergumul dengan wacana di ruang-ruang seminar dan diskursus ilmiah di media dan buku.

Biasanya massa menyuarakan pendapatnya dalam suasana hiruk pikuk dan kalimat-kalimat pendek serta bombaptis. Dengan sendirinya, kondisi semacam ini tampak sangat emosional dan ofensif. Hal Ini bisa dipahami karena wakilnya cenderung ingin menggelorakan dan mengaduk-aduk psikologi khalayak. Sementara, para sarjana bergulat dengan pemikiran yang memerlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam kalimat yang panjang, seimbang dan analitikal. Meskipun, tak jarang yang terakhir ini jika berada di depan massa dan berdiri di podium juga tidak bisa menahan diri untuk bersuara keras.

Oleh karena itu, penggerak massa perlu diajak turut serta dalam dialog agar tidak mudah memantik kontroversi dan berujung kontraproduktif, yang justeru menelikung tujuan kebajikan, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan agama. Saya sendiri merasakan mereka yang mendaku moderat dan murni jarang mau membicarakan persoalan umat secara bersahaja dan dalam suasana kebersamaan. Keduanya sama-sama mempunyai panggung sendiri dan celakanya, satu sama lain saling menjegal di medianya masing-masing. Mungkin, upaya Metro TV dalam Dialog Today yang melibatkan kedua kelompok ketika membahas al-Qiyadah al-Islamiyyah, bisa ditradisikan dalam skala lebih luas.

Dengan mengacu kepada dua model pemikiran otentik yang peduli terhadap segelintir elit atau khalayak massa, kita bisa memahami kedudukan masing-masing dalam menjalankan peran kekhalifahannya di bumi. Walau bagaimanapun, pada praktiknya, agama tidak serumit teori yang diperselisihkan para sarjananya. Dari mereka yang dianggap keras kepala, kita berusaha meraup semangatnya bagaimana membela khalayak yang justeru diabaikan, meskipun di atas panggung namanya sering disebut. Tindakan nyata dengan memerhatikan keperluan ekonomi mereka sejatinya adalah keadilan yang mereka perjuangkan, namun diabaikan karena sebagian pembelanya lebih suka berteriak di jalanan. Sudah saatnya wacana menjadi tindakan nyata. []

Comments

Popular Posts