Pandangan Luas itu Menyenangkan


Menyesap kopi di sebuah warung adalah peristiwa biasa. Tapi kali ini, saya berada di ketinggian dan melepaskan pandangan ke segala penjuru, salah satu gambar di atas. Bukit itu dipisahkan oleh laut dan seakan menjadi penanda akhir dari jarak saya dengan dunia. Di sela itu, saya membaca koran The Sun, membual ke sana kemari, menekuri pelbagai kelebatan tingkah pengunjung. Sebagian memelototi laptop, yang lain bercengkerama. Tak hanya itu, meskipu warung kopi ini diboikot oleh sekelompok masyarakat, pegawainya ada yang mengenakan jilbab. Sebuah wajah yang sulawan.

Tapi, biarlah kesulawanan itu hadir. Pilihan kita banyak, namun kita tak bebas memilihnya karena keseharian telah ditentukan oleh iklan media. Selera dan gaya mencerminkan kehendak pabrik. Kita telah menerima jadi dan tak perlu berpikir dan hanya merayakannya hingga akhir. Semua tumpang tindih. Jika sebagian teman saya masih berteriak ancaman Barat, yang lain menganggapnya igauan di siang hari. Identitas yang diperjuangkan hanya berujung kepentingan, tidak lebih. Adalah susah menemukan ketulusan.

Sekarang, ketika refleksi ini diterakan, saya harus menjaga jarak dari objek yang disoal. Kekhawatiran yang selalu mengikuti adalah pembenaran terhadap kesenangan. Kita membungkus prilaku dan gaya dengan segudang alasan. Saya, misalnya, membenarkan duduk di warung itu dengan memasukkan beberapa cerita. Inilah helah untuk menangkis hujatan bahwa saya tidak mempraktikkan apa yang dipikirkan. Banyak omong, tapi pada masa yang sama melanggar apa yang diungkapkan.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Lautan Fragmen

Kebenaran dan Metode