Mempromosikan Jakarta

Koran Jakarta, 6 Februari 2010


Ahmad Sahidah

Postdoctoral Research Fellow pada Universitas Sains Malaysia


Tahun 2009 lalu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengiklankan visit Indonesia 2009 di televisi 3 Malaysia, kotak kaca yang paling banyak ditongkrongi warga jiran. Dengan menggunakan ikon Adibah Noor, artis lokal ternama, diharapkan keindahan negeri ini akan lebih mudah dipahami warga di sana. Beberapa situs yang ditampilkan di antaranya adalah Tanah Abang, Ancol, TMII, dan Museum Jakarta. Lalu, pada iklan berikutnya juga ditawarkan Yogyakarta dan Makasar. Tentu, pemilihan Jakarta adalah wajar mengingat ibu kota tesebut merupakan daerah tujuan wisata pertama setelah Bali. Pengambilan gambar lokasi yang apik tentu akan menerbitkan liur siapapun untuk segera bisa menikmati kota yang dulunya bernama Batavia.


Saya mencoba membuka situs yang memberikan informasi tentang dunia turisme Jakarta di alamat www.tourism-jakarta.go.id. Dengan memberikan empat kategori besar, kuliner, situs bersejarah, budaya dan pusat belanja, para wisatawan diharapkan bisa leluasa dalam memilih pelbagai menu yang ditawarkan. Dengan tulisan Enjoy Jakarta, pihak terkait ingin menampilkan pesan bahwa di sinilah para ‘wisatawan’ akan menikmati suguhan yang ditawarkan. Sayangnya, hingga tulisan ini dibuat, akses ke pendidikan dan rumah sakit belum bisa dibuka, hanya tertulis coming soon. Padahal dua yang terakhir ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung pariwisata dalam kedua bidang yang dimaksud.


Tapi, masalahnya, pintu masuk ke Jakarta, Bandara Internasional Soekarno Hatta, menimbulkan rasa tidak nyaman. Padahal, inilah gerbang pertama yang menerima kedatangan orang luar. Selain atapnya rendah, pemilihan warna gelap memberikan kesan muram dan desain interior dan eksterior yang tak jelas, apakah tradisional atau modern mengganggu pemandangan. Bandingkan dengan Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA) yang sepenuhnya mengadopsi desain modern dengan langit-langit yang menjulang tinggi. Siapa pun yang datang akan merasa bernapas lega, meskipun begitu banyak penumpang berhamburan. Dengan warna terang, ruangan tampak luas, berbeda dengan warna gelap yang membuat ruang terasa sempit.


Negara tetangga ini sebenarnya bisa dijadikan rujukan dalam pengembangan dunia pariwisata di sini. Tidak saja negara bekas jajahan Inggeris tersebut mampu mendatangkan turis hingga 20 juta, angka yang hampir menyamai jumlah penduduknya, tetapi kemampuan kerjasama antardepartemen untuk menyukseskan program visit Malaysia. Dalam sebuah kesempatan, saya bersama mahasiswa Indonesia pernah mengalami kejadian unik. Dalam sebuah perjalanan ke Cameron Highland, sebuah puncak wisata di daerah Pahang, tempat kelahiran Siti Nurhaliza, kami dihentikan oleh polisi, yang ternyata tidak melakukan razia, melainkan membagikan souvenir bertuliskan visit Malaysia 2007. Sesuatu yang tak biasa terjadi di sini.


Tak ada kemacetan yang parah menuju Cameron Highland seperti Puncak Bogor. Jalannya lebar dan pengguna jalan tertib. Kami pun bisa menikmati kebun teh dengan leluasa, selain pelbagai tanaman buah-buahan. Boleh dikatakan, sebagian besar pengunjung adalah orang lokal. Ini disebabkan promosi yang genjar dari kementerian pelancongan untuk mengajak warganya menikmati hari libur atau di sana lebih dikenal dengan cuti. Setiap pengunjung tentu merasa nyaman karena bisa berjalan tanpa diganggu penjual asongan sebagaimana banyak tempat wisata di sini. Bukankah kenyamanan itulah yang dicari pelancong? Adalah tidak keliru jika Mahathir Muhammad, bekas Perdana Menteri Malaysia, menyebut Jakarta sebagai frenetic life (kehidupan hingar bingar) dalam blognya (25/1/10), dan bahkan menyarankan warganya untuk ke Makasar, di mana banyak ditemukan pantai yang cantik, penginapan yang indah, makanan lain yang melimpah dan penduduknya yang ramah.


Keberhasilan Malaysia dalam mengelola pariwisata sepatutnya mendorong pihak terkait di sini untuk mempertimbangkan sebagai negara contoh. Dengan karakter pengelola yang sama, yaitu dunia Melayu, selayaknya Jakarta mampu bersaing secara sehat dengan Kuala Lumpur untuk meraup devisa dari sektor ini. Apatah lagi, kekayaan budaya, luas area dan kebebasan Jakarta melebihi ibu kota Malaysia, sehingga para wisatawan akan lebih banyak memilih destinasi yang dinginkan. Mungkin juga, para anggota dewan perwakilan rakyat perlu melirik Kuala Lumpur untuk melakukan studi banding, selain dekat juga tidak mahal. Daripada jauh-jauh ke Amerika atau Eropah, para wakil rakyat itu tentu lebih layak mencari perbandingan ke negara tetangga.


Teman Malaysia saya, Aqil Fithri, tampak tidak bisa menyembunyikan kekesalannya bahwa dia harus banyak menghabiskan waktu di jalan. Selain transportasi yang terbatas, ketertiban acapkali diterabas sehingga membuat kebat-kebit penumpang. Adalah tidak salah jika, Paman Tyo, pemilik blog www.antyo.rentjoko.net ini, menyatakan bahwa masalah di Jakarta adalah jarak, transportasi dan waktu (9/9/09). Pengalaman saya sendiri menikmati angkutan umum di Jakarta menegaskan masalah tersebut. Tak hanya itu, saya acapkali disergap waswas. Tidak saja pengemudi menjalankan angkutan umum dengan ugal-ugalan, tetapi jarak antara kendaraan yang begitu dekat.


Nah, jika moda transportasi dan prilaku pengendara tidak diperbaiki, maka ia akan menjadi berita buruk bagi calon wisatawan yang lain. Malah, dana besar yang digelontorkan oleh pihak pariwisata untuk mendongkrak jumlah wisatawan akan mubazir. Padahal Maskapai Penerbangan Air Asia jurusan Kuala Lumpur dan Jakarta telah melayani rute ini sebanyak enam kali, sebuah jadual penerbangan yang cukup padat untuk menjaring wisatawan asal negeri tetangga. Demikian pula, jika tingkat kenyamanan tak kunjung membaik, maka upaya menaikkan pendapatkan dari sektor pariwisata sia-sia. Padahal, biaya untuk menjual Jakarta di luar negeri cukup besar. Bagaimanapun, Rhenald Kasali, pakar manejemen UI, mengusulkan bahwa pemerintah harus lebih serius untuk menggarap potensi kedatangan wisatawan dari negara tetangga.


Jauh dari itu, kematangan warga di sini dalam mengungkapkan pendapat perlu dipertimbangkan kembali. Kecenderungan anarki masyarakat dalam melakukan aksi hanya berbuah citra tidak aman bagi negeri ini. Demikian pula, tindakan ngawur Benteng Demokrasi Rakyat melakukan aksi sweeping (di sana disebut sapu) telah menimbulkan respons emosional dari Kuala Lumpur. Meski hanya dilakukan di Jalan Diponegoro oleh segelintir orang, dampak pemberitaan di media telah menyulap kekhawatiran yan g meluas di kalangan warga serumpun. Bahkan, beberapa agen perjalanan telah membatalkan kunjungan wisatawan Malaysia karena isu yang terakhir ini. Tentu, keadaan yang seperti tidak dinginkan oleh banyak orang. Lalu, mengapa Jakarta tidak membuka pintu lebar-lebar untuk saudaranya dengan ramah?

Comments

Popular Posts