Dalam buku ini, Pak Nurul Huda mengutip pernyataan Pak Usman Hamid, Direktur Amnesti Internasional, "Selama bertahun-tahun masyarakat asli Papua telah mengalami rasisme dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Banyak di antara mereka yang ditangkap dan didakwa dengan tuduhan makar ketika terlibat dalam aksi damai (hlm. 9).
Dengan pendekatan teologi James Cone dan Farid Esack, dialog kemanusiaan hendak menghadirkan Tuhan dalam mengembalikan manusia sebagai makhluk yang mulia dan setara. Agama membebaskan manusia dari belenggu penindasan atas nama apa pun.
Dialog ini akan menyegarkan pengalaman saya belajar ilmu Tawhid sejak Madrasah Ibtidaiyah hingga IAIN Sunan Kalijaga. Tugas akhir tentang keadilan Tuhan di S1 dulu tentu terkait dengan isu kejahatan, baik manusia maupun "alam". Kini, tentu teologi tidak dilihat sebagai urusan langit, tetapi bumi, tempat Tuhan menyampaikan firman pada Nabi-Nya.
Dulu, di Tsanawiyah dan Aliyah Annuqayah, kami belajar Al-Jawahirul Kalamiyah dan Al-Hushun al-Hamidiyyah sebatas mengenal sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz Tuhan. Di perguruan tinggi, kami melihatnya sebagai disiplin yang memungkin teman baik kami bertanya tentang kedudukan nabi dan filsuf dalam memanggul amanah untuk menyampaikan pesan yang didapat pada manusia.
Dalam obrolan ringan di kegiatan Kelompok Kajian Pojok Surau KKPS, Kiai Imdad Robbani menyampaikan pada kami untuk menyoal beberapa hal yang dicetuskan dalam karya ini. Saya membayangkan Pak Mushafi Miftah sebagai pakar hukum akan melihatnya dampak teologis dari sisi praktis legal, di mana sah dan tidaknya sebuah aktivitas bila didahului dengan kesaksian pada Tuhan.
Saya akan melihatnya bahwa panggilan jiwa (beruf) Tuhan bisa mewujud pada sikap asketis atau zuhud. Samar-samar, saya mengingat almarhum Pak Syamsuddin, dosen Sosiologi Agama IAIN Sunan Kalijaga yang pertama kali mengenalkan istilah tersebut. Agama-agama akan mudah berdialog pada dimensi spiritual dan menemukan titik temu pada kebersahajaan, di mana konflik seringkali dipicu oleh ketamakan dan kerakusan manusia.
Rasisme hakikatnya wujud dari sikap antisains, di mana asal manusia sebenarnya tunggal (ummatan wahidah), dan alat manusia untuk merasa unggul daripada liyan demi melanggengkan kekuasaan dan kepentingan. Dari keyakinan inilah, tanpa mengabaikan asal-usul keturunan, saya membawa banyak gen dalam tubuh dan jiwa ini. Anda cukup menyebutnya manusia. Jati diri lain itu tempelan yang mudah tanggal.

No comments:
Post a Comment