Jendela Surau

Siang terik, namun Ali setia mengajak orang turun untuk sembahyang berjamaah. Untuk kali ini, saya pun turun. Sehabis shalat, sambil menarik napas, saya mengambil gambar tingkap. Dari sini, suara burung menyeruak masuk. Selain itu, gemericik air terdengar dari pipa mengucur ketika jamaah mengambil wudhu'. Kadang suara celotehan anak kecil yang menunggu di luar menyela.

Jendela terbuka. Meskipun tertutup, orang luar masih bisa melihat ke dalam karena transparan. Secara semiotik, ia bisa ditafsirkan tentang kebersamaan. Tak mungkin individu menjalin sapa jika menutup diri. Kehadiran penghuni flat yang berasal dari Timur Tengah membuat rumah ibadah ini bertambah marak dan tidak pengap, karena hampir setiap waktu, azan dikumandangkan. Malah, teman-teman Arab dari blok sebelah, kira-kira 300 meter, juga turut hadir untuk meramaikan. Secara bergantian mereka mengimami sembahyang.

Tanpa dirancang, azan Subuh sering diperdengarkan oleh Encik Yusuf. Tadi pagi, sebaris saf menunaikan shalat pagi, yang sebagian besar warga flat yang berasal dari Timur Tengah, seperti Yaman dan Iraq. Jarum jam menunggu angka enam. Tentu bagi warga Indonesia bagian Barat, kewajiban ini tak berat, karena waktu sebegini alam mulai terang. Malah, sebagian lain sudah bergegas berangkat ke tempat kerja. Artinya, jam tubuh mereka telah terbiasa, sehingga berjamaah subuh di Pulau Pinang bukan sesuatu yang menyusahkan.

Bagaiamanapun, bangun pagi adalah kesempatan untuk mewujudkan pertemuan dengan orang-orang yang berusaha menemui Tuhannya. Mereka datang hanya dengan baju yang melekat di tubuhnya. Tak ada pernak pernik yang menunjukkan sebuah identitas dan kelas. Shalat Subuh pada waktunya memberi kesempatan untuk mereguk udara yang masih bersih dan nyanyian burung terdengar jernih. Tambahan pula, semakin awal menjaring matahari, semakin banyak pula persiapan untuk menjalani hari. Bayangkan kalau bangun terlambat, selain tak sempat memerinci apa yang dilakukan pada hari itu, ketergesaan telah membuka perangkap untuk terjatuh dan lupa.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen