Kontroversi ESQ di Malaysia

Jawa Pos, 23 Juli 2010

Oleh Ahmad Sahidah

KASUS penyesatan ESQ (the Emotional and Spiritual Quotient) Leadership Training di wilayah federal Malaysia memantik kontroversi. Kursus ini dianggap dapat merusak akidah (keyakinan) dan syariah. Meskipun dinyatakan hanya oleh seorang di antara 14 mufti di Malaysia, fatwa sesat itu mengguncang publik. Tidak saja kursus tersebut telah menghasilkan 60 ribu alumni yang meliputi pelbagai instansi dan lembaga swasta, banyak petinggi dan pesohor yang juga terlibat di dalamnya. Bahkan, sebagian mufti juga pernah mengikuti pelatihan itu.

Wan Zamidi Wan Teh, mufti wilayah persekutuan, melihat modul pelatihan itu mengandung ajaran yang menyesatkan karena memasukkan unsur-unsur bukan Islam ke dalam materi, seperti SQ-nya Donah Zohar yang beragama Yahudi, God Spot-nya V.S. Ramachandran yang beragama Hindu, dan suara hati (conscience) yang berbau filsafat.

Namun, pada waktu yang sama, mufti lain menyangkal keputusan itu, malah sebaliknya melihat ESQ sebagai model dakwah yang efektif untuk menanankan nilai-nilai murni agama. Sebuah koran harian, Sinar, dengan getol menempatkan ulasan yang luas untuk mendukung model ESQ sebagai pelatihan motivasi, jika dibandingkan dengan model lain yang tidak mencerminkan prinsip-prinsip Islam.

Motivasi

Hakikatnya hal serupa, kata banyak orang, telah dilaksanakan, namun masih mengacu pada model program motivasi Barat. Kehadiran ESQ dianggap angin segar. Kementerian Pertahanan melalui orang nomor satunya, Ahmad Zahid Hamidi, yang berdarah Ngayogyakarta, menjadikan ESQ sebagai kursus tambahan bagi pegawai di kementeriannya.

Antusiasme masyarakat juga tinggi. Buktinya, banyak perusahaan mengursuskan pegawainya, termasuk para pesohor, seperti Erra Fazira. Bagi para pengkritik, perubahan sikap itu hanya berlaku dua bulan. Setelah itu, peserta akan kembali pada kehidupan semula.

ESQ betul-betul telah menarik minat banyak orang untuk kembali menemukan semangat dalam pekerjaan dan hidupnya dengan kembali menjiwai syahadat serta rukun Iman dan Islam. Namun, pelatihan ini dikritik karena berbau bisnis. Dengan biaya sekitar RM 800 (Rp 2,4 juta), tentu mereka yang berkantong tebal yang dapat meningkatkan imannya, sedangkan yang tidak berduit menggigit jari karena jalan menuju Tuhan mahal. Malah, kalau dilaksanakan di hotel, biaya bisa membengkak hingga RM 1.380 (Rp 4 jutaan). Karena itu, beberapa sarjana di Malaysia melihat kursus tersebut lebih menonjolkan unsur bisnis daripada dakwah.

Namun, menilik kesaksian alumninya, kursus tersebut memang telah membuat hidup mereka lebih bermakna. Tentu, keberhasilan semacam itu diharapkan oleh banyak orang. Dengan kata lain, motivasi yang ditanamkan oleh ESQ telah meresap. Setidaknya dua orang terkenal, Mukhris Mahathir, wakil menteri dan anak Mahathir Mohamad, serta Fauziah Nawi, bintang film, menegaskan hal itu. Hebatnya lagi, pelatihan tersebut juga diikuti oleh peserta nonmuslim, yang juga turut memberikan penghargaan yang tinggi terhadap apa yang disebut The ESQ 165 Way.

Terkait dengan kenyataan tersebut, mungkin solusi yang bisa dilakukan, ESQ perlu mengimbangi dengan pelatihan gratis bagi khalayak sebagai tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).

Retorika

Kata kunci yang mendorong mufti memberikan fatwa sesat adalah pluralisme dan liberalisme. Sejatinya, fatwa nasional telah mengharamkan pemahaman itu. Namun, penyematan pada ESQ dirasakan terburu-buru oleh mufti lain, seperti ulama vokal Harussani Zakaria. Meski demikian, ulama yang terakhir ini menghargai pendirian sejawatnya, sekaligus mendorong ESQ memantapkan panel syariah agar praktik ESQ bisa dipantau.

Malah, bekas mufti lain, Dr Asri Zainul Abidin, menengarai praktik talibanisasi dengan fenomena mudahnya pengharaman oleh ulama terhadap sesuatu. Bagi dosen hadit di Universiti Sains Malaysia tersebut, ulama perlu mencari jalan keluar dan alternatif, bukan main hantam dengan fatwa sesat.

Dari peristiwa di atas, hikmah yang bisa dipetik dari perbedaan itu adalah realitas pluralitas pendapat itu sendiri yang mesti disikapi dengan keterbukaan dan kearifan. Hal lain yang perlu dipikirkan adalah kegairahan banyak sarjana muslim dan ulama yang menjadikan Islam liberal sebagai ancaman, tidak hanya di ruang seminar, masjid, bahkan di media massa. Padahal, jika ia mengacu pada Jaringan Islam Liberal (JIL), kita bisa menghitung dengan jari pegiat yang berhikmat di dalamnya. Justru, musuh terbesar adalah umat Islam sendiri yang tidak jelas warnanya.

Coba lihat di Malaysia, sebagaimana di Indonesia, adakah keislaman telah merembes dalam kehidupan sehari-hari mayoritas umatnya? Tidak. Masjid dan surau roboh, meminjam A A Navis, karena tidak dikunjungi jamaah. Kebersihan dan kelestarian lingkungan terabaikan, padahal merupakan bagian dari jati diri muslim.

Kemewahan meruyak di tengah banyaknya umat yang masih daif dan sakit-sakitan. Selagi sarjana muslim terpaku pada retorika pengambinghitaman Islam liberal, tanggung jawab mereka untuk mendorong pengentasan kemiskinan dan kebodohan umat terabaikan.

Demikian pula, alasan adanya sekularisme sebenarnya menempelak muka mereka sendiri. Bagaimana pun, Malaysia adalah negara sekuler, bukan teokratik. Jadi, adalah aneh menjadikan alasan sekularisme sebagai biang pengharaman ESQ. Justru, tafsir baru terhadap maqashid syariah (tujuan syariah) perlu disesuaikan dengan semangat baru, yaitu pembelaan terhadap nasib umat yang masih terbengkalai, sedangkan para elite bergelimang kemewahan.

Adalah aneh jika retorika pembelaan Islam itu menyembunyikan tugas utama para ulama, memartabatkan manusia. Hal ini tentu saja tidak saja mensyaratkan perawatan kerohanian, tetapi juga kejasmanian. (*)

*) Ahmad Sahidah PhD, peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode