Tafsir Hierarki Tiang Islam

Koran Jakarta, Jumat, 20 Agustus 2010

Pemerintah berusaha menambah kuota haji Indonesia. Tentu ini kabar gembira karena di tempat kelahiran saya, Sumenep, hingga 2015, kuota haji telah terpenuhi sehingga banyak orang berharap-harap cemas untuk bisa menunaikan ziarah Mekkah segera. Berapa pun tambahan itu, haji merupakan penanda banyak hal, kemakmuran dan kesadaran beragama. Namun, catatan antropologi tentang haji menunjukkan tidak melulu tentang dua hal tersebut, tetapi juga gengsi sosial.

Dalam sejarahnya, praktik ini juga telah mendorong kemerdekaan bangsa dengan menyuburkan gerakan melawan penjajah. Haji hakikatnya merupakan salah satu dari fondasi Islam yang dikenal dengan lima rukun atau tiang, selain kepercayaan pada Tuhan, salat, zakat, dan puasa. Setiap muslim bisa dipastikan menghafal urutan ini, bahkan anak-anak diajarkan dalam bentuk nyanyian. Secara verbal, ia mudah dipahami, namun penghayatan terhadap dasar ini memerlukan pemahaman yang menyeluruh.

Pelaksanaan kelima rukun secara sambil lalu hanya akan melahirkan kerumunan penganutnya. Pembelaan terhadap tiang agama ini kadang bersifat karikatif, bukan substantif. Sekelompok orang membawa bendera bertuliskan syahadat, tapi kepada sesama muslim menghujat. Hakikatnya rukun Islam tersebut sangat sederhana, mudah diucapkan, namun tak sesederhana mengamalkan setiap hari dengan sempurna.

Secara semantik, salat di kitab suci dikaitkan dengan kepedulian terhadap sesama, sehingga sembahyang itu bisa menjadi sia-sia jika pelakunya tak menyantuni fakir miskin dan merawat anak yatim.Mungkin inilah yang menyebabkan salat tidak dikatakan salat karena ia tidak bisa mencegah pelakunya berbuat kemungkaran. Bagaimana tidak, ketika ratusan ribu orang berbondong-bondong ingin mencapai pahala berlipat dengan bersembahyang di Masjid Nabawi, jutaan orang menanggung nestapa di negeri asal karena tak cukup makan dan tempat tinggal.

Perhatian tertinggi dalam agama, atau the ultimate concern, jelas seorang teolog Karl Rahner, adalah Tuhan. Akibatnya, hal ihwal lain berada di urutan setelahnya. Pendek kata, Tuhan adalah fokus tertinggi. Secara semantik, tambah Toshihiko Izutsu, sarjana kajian Islam Jepang, Allah merupakan kata yang berada di kedudukan tertinggi di antara kata-kata kunci dalam kitab suci.

Namun, kadang pernah tebersit pada benak kita bahwa Tuhan itu hanya instrumen untuk memenuhi kehendak-kehendak lain dalam keseharian, misalnya perolehan kekayaan dan jabatan. Bahkan doa-doa kita melulu berisi permintaan harta dan pemenuhan hasrat. Lalu, setelah aqidah kokoh, seorang muslim menunjukkan secara simbolik melalui salat. Tak hanya itu, meski salat menjadi ruang batin antara manusia dan Tuhannya, ia juga didorong untuk menjadi perekat sosial.

Ternyata, ibadah itu makin jelas fungsi sosialnya, bukan untuk Tuhan. Karena ia mahakaya, zakat dianjurkan untuk menyucikan harta dan keprihatinan terhadap si miskin.Kewajiban ini selalu bersanding dengan perintah salat sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan, seakan-akan dua sisi koin. Nilainya mengandaikan masing-masing harus menyatu.

Bahkan ketika zakat ditunaikan , puasa sebagai kewajiban selanjutnya mengandaikan satu perintah yang muslim untuk merasakan lapar agar terhadap sesama selain sebagai cara untuk menguatkan diri, bersabar menghadapi cobaan, dan berani menerima tantangan. Sayangnya, aura keagamaan yang memancar di bulan puasa tak terasa di luar Ramadan. Masjid dan surau kembali dibekap sepi. Tadarus Al Quran berhenti. Sebelas bulan setelah puasa, kembali pada perayaan hasrat. Padahal nilai puasa yang tak merembesi bulan-bulan di luar Ramadan menandakan puasa sebelumnya hanya meraih lapar dan dahaga. Masihkah kita abai?

Keserentakan

Jika urutan itu dipahami sebagai hierarkis, haji merupakan pamungkas dari seluruh nilai yang terkandung dalam aqidah, salat, zakat dan puasa. Rukun kelima itu merayakan semua ajaran yang telah terpatri kuat sehingga kewajiban ini tidak semata-mata pemenuhan hasrat gengsi sosial, seperti disinyalir antropolog di atas. Lebih jauh, pelaksanaan haji juga menuntut kesungguhan pemerintah untuk bertindak profesional dalam mengurus jamaah. Bagaimanapun, kenyamanan beribadah mengandaikan hal lain, selain pengetahuan dan pelayanan.

Ini juga meneguhkan bahwa ibadah itu tidak semata-mata merawat batin, tetapi juga raga. Tanpa tubuh yang sehat, jamaah tidak mungkin memenuhi menjalankan sa i, tawaf, dan jumrah dengan sempurna. Meski demikian, jauh dari sekadar memenuhi syarat dan rukun haji, makna dari pelaksanaan ibadah ini juga perlu diperhatikan secara mendalam. Berkaca pada negara tetangga yang berhasil mengelola Tabung Haji dalam pelbagai kegiatan bisnis dan akhirnya membantu meningkatkan pelayanan haji, pihak pengelola haji Tanah Air segera berbenah diri. Dengan biaya lebih murah dibandingkan Indonesia, Malaysia ternyata memberikan pelayanan yang lebih bermutu. Celakanya, selalu ada tangan kotor dalam pelaksanaan haji yang dikelola Departemen Agama. Bagaimanapun, di tengah gairah melakukan haji, ulama harus menyampaikan kepada umat tentang pesan esoterik ibadah haji.

Pengalaman Hamzah Fansuri, seorang sarjana dan sufi Aceh, yang menemukan Tuhan tidak di Ka’bah, bukan berarti Sang Maha Segala itu tidak ada situ, sejatinya Dia ada di mana-mana. Coba simak puisi yang diungkap dalam Sidang Ahli Suluk: Hamzah Fansuri dalam Mekkah// Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah// dari Barus ke Qudus terlalu payah//akhirnya jumpa di dalam rumah. Bagaimanapun, dimensi batin dalam Islam yang dipelopori oleh para selalu mengundang kontroversi dan paling apes tak jarang diberangus penguasa yang bersekongkol dengan pengawal agama, seperti dialami oleh para pengikut Hamzah Fansuri.

Haji, dengan demikian, boleh dikatakan sebagai puncak dari perjalanan muslim dalam memenuhi kewajibannya sebagai makhluk. Kehendak untuk menunaikan fardu ain ini sejatinya memaksa muslim memeriksa empat rukun sebelumnya. Kalaupun sudah bergelar haji, mereka tetap harus memperbarui tekad dan amal agar makna sejati haji itu terpatri, yaitu melalui ibadah yang bisa merekatkan hubungan sosial. Keserentakan nilai yang terkandung dalam rukun Islam tersebut adalah cara ideal untuk menjadi muslim sejati.

Penulis adalah Fellow Peneliti Pascadoktoral pada Universitas Sains Malaysia
Ahmad Sahidah

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen