Asing dan Karib


Gambar di atas diambil dari kursi sebuah warung makan di pinggir jalan. Kalau tidak ada tulisan Heap Seng Hin & Co, saya akan menggeleng kepala kalau diminta membaca huruf China di atas. Sesuatu yang asing. Bagaimana jika ditulis dengan huruf Arab? Serta-merta saya akan mengatakan tidak asing, dekat. Padahal jika ditilik dari asal-muasal saya, sejatinya keduanya sama-sama asing. Namun karena huruf Arab telah menjadi bagian kesadaran sejak kecil, ia tidak lagi merupakan sesuatu yang ada di seberang.

Mungkin pada waktu tertentu, huruf-huruf itu menyampaikan maksud yang sama, namun kedekatan kepada keduanya mempengaruhi emosi, karena berkait dengan perjalanan panjang sejarah, yang di dalamnya berkelindan hal ihwal kebudayaan, politik dan sosial. Huruf Arab jauh lebih mempunyai daya magis karena ia terpahat dalam kitab suci dan terpampang di ukiran tiang masjid. Samar-samar, saya masih mengingat dengan baik dulu di kampung saya pernah menemukan huruf Arab dijadikan jampi-jampi untuk segala keperluan.

Lalu, apa sebenarnya asing dan karib itu? Mungkin anekdot seorang ibu dan anaknya perlu ditimbang. Ketika si kecil bercerita pada ibunya, "Bu, tadi saya bertemu orang Asing." Lalu, Ibu itu menukas, "Bukan, Nak! Ia adalah orang yang belum kamu kenal". Jadi, asing dan tidak itu bisa dilihat dari sudut perjalan waktu. Hanya saja, maukah kita melaluinya atau abai hanya karena kita telah merasa cukup dengan tetangga yang telah dikenal sebelumnya?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen