Agama Publik

Agama publik (public religion) adalah istilah teknis yang bisa jadi rumit uraiannya. Ia kadang dibedakan dengan agama pribadi, yang juga menjadi panjang jika ingin dimaklumkan pada orang ramai. Tetapi jika agama publik dipahami secara harfiah dari kata ini, agama masyarakat, ia bisa dilihat dari rak buku di atas. Khalayak hanya perlu memikirkan kembali ibadah dan doa mereka. Adakah ia sekadar memenuhi perintah, atau lebih jauh ingin meraup berkah, maka ini pun melahirkan silang pendapat.

Pendek kata, secara tersirat, apa yang dilakukan oleh orang ramai bisa ditafsirkan sebagai sebuah konfigurasi yang rumit tentang makna agama. Ketika kritik dilayangkan pada mereka yang mengamalkan agama secara formal, hakikatnya, mereka sedang menyelami makna batin dari agamanya. Tubuh mereka akan merespons secara berbeda pada keadaan yang dimanjakan di mal atau di masjid. Meramaikan yang terakhir tentu beda pengaruhnya dengan yang pertama.

Hanya orang yang baru belajar filsafat enggan memakmurkan surau tempat ia tinggal. Hakikatnya ruang publik itu berupa tempat yang tak mencecoki tubuh dengan materi semata-mata, tetapi harus berupa ruang yang membuat tubuh kita nyaman secara spiritual. Di sini, orang bertemu karena mengandaikan kerinduan ilahi, bukan transaksi. Mal adalah ruang di mana orang terperangkap pada rayuan gombal tentang kebahagiaan dan surau adalah antitesis dari kegombalan itu. Orang ramai perlu diyakinkan bahwa mereka harus tahu jalan pulang, tempat ibadah. Sementara segelintir pemikir akan merana mati sendirian, jika gagasannya yang terbenam dalam benaknya tak berbuah tindakan.

Coba lihat buku Indahnya Amalan Doa Ismail Kamus di atas. Ia akan lebih menarik orang untuk membeli karena kandungannya sejalan dengan kehendak orang kebanyakan, berdoa untuk mendapatkan kebaikan. Tambahan lagi, pengarang tersebut adalah penceramah yang sangat populer. Dalam sebuah kesempatan, saya sendiri pernah mengikuti ceramah bekas politisi ini di kampus. Wow, seluruh kursi ruang auditorium kampus terisi. Bahkan, sebagian peserta duduk di lantai dan di luar gedung. Peserta ger-geran menanggapi kelucuan penceramah, sehingga membuat mereka betah berlama-lama mendengar pengajian. Hal serupa juga terjadi ketika Fadilah Kamzah, motivator dan penceramah agama hadir di tempat yang sama. Pendek kata, agama publik itu bisa ditakrifkan sebagai agama yang dipahami dan dinikmati orang ramai.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen