Surat K(h)abar Bekas

Setelah sekian lama surat kabar itu menumpuk, saya bersama Nabbiyya membawanya ke toko sepeda yang juga menerima koran lama. Seperti para pensiunan, saya biasanya membeli koran sesudah sembahyang Subuh di surau tak jauh dari rumah. Lalu, dengan koran di tangan, saya membeli sarapan di seberang jalan toko koran. Kedua pemilik toko ini adalah dua perempuan yang setia setiap pagi melayani pembeli. Ada pelbagai koran, seperti Sinar Harian, Berita Harian, New Straits Time, Metro, Harakah, Suara Keadilan, Kosmo!, Malay Mail dan The Star. Ada juga koran Indonesia, namun tak banyak, seperti Jawa Pos dan KOMPAS, yang dibeli ketika dalam perjalanan kembali ke Kedah dari Yogyakarta atau Surabaya.

Sebelum menjualnya, saya bertanya pada seorang lelaki 30-an yang sedang memperbaiki sepeda anak orang Arab yang juga tinggal di perumahan tempat saya tinggal. Dengan senyum, ya, kami menerima koran bekas. Serta merta saya meminjam troli Pasaraya Yawata untuk mengangkut koran tersebut. Di sana, dua lelaki dan perempuan tua menyambutnya dan membawanya ke dalam untuk ditimbang. Si anak menunjuk angka 20, yang berarti koran itu seberat 20 Kg. Ibu tua itu pun membuka laci meja dan menyerahkan 4 lembar ringgit dan 10 sen. Tentu harga murah ini hanya membeli kertas bekas, bukan berita yang ditulis di dalamnya, apalagi pendapat yang ditulis dalam kolom opini.

Dulu, ketika saya tinggal di Pulau Pinang, saya tak menjual koran bekas, tapi memberikannya pada Ibu Yati, TKW asal Jawa Tengah yang bekerja sebagai petugas kebersihan di flat kami. Kadang, saya memberikan tumpukan koran pada tetangga kami yang juga bekerja mengumpulkan barang-barang bekas, seperti alat eletronik dan sepeda. Dengan melakukan hal ini, saya berharap koran itu tidak sia-sia, apatah lagi dibakar, tidak didaur ulang (bahasa Malaysia kitar semula). Menyelamatkan bumi dari sampah adalah tugas para khalifah.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode