Mulia Bangsa, Tinggi Bahasa


Mengikuti seminar ini, saya memeriksa kembali bahasa yang saya gunakan. Sebelum mengkritik orang lain, saya tentu perlu melihat kembali tulisan saya yang pernah dimuat di
blog, surat kabar dan majalah. Aha, di sana saya menemukan banyak ketidaktaatasasan. Anda bagaimana? Mungkin kita pernah melakukan kesalahan serupa, namun tak menghalang kita untuk terus berusaha agar bahasa ini dirawat dengan sepenuh hati.

Seperti dijelaskan oleh Tan Sri Dzulkifli Razak, ketinggian bahasa Melayu bisa dilihat pada pengertian kata budi, yang tidak bisa sepenuhnya dialihbahasakan kepada kosa kata bahasa lain. Meskipun Georg-Hans Gadamer menegasakan dalam karya Kebenaran dan Metode bahwa terjemahan itu mungkin, tapi sebuah kata tertentu tetap mengandaikan pandangan hidup yang khas dari pemakainya. Bagaimanapun, kata budi mengandaikan makna dasar dan relasional, di mana yang terakhir mengandaikan makna yang telah berkelindan dengan banyak ideologi kebudayaan besar dunia. Apalagi jika kata ini dikaitkan dengan kata lain, seperti bicara, pekerti dan bahasa, maka kata majemuk tersebut mengandaikan falsafah hidup dari pemakainya.

Lalu, mengapa kita banyak menemukan orang ramai tak lagi menghargai bahasa kebangsaannya? Apakah betul mereka telah mengkhianati jati dirinya? Dua persoalan tersebut sempat mengemuka dalam acara seminar kebangsaan yang diselenggarakan oleh Persatuan Karyawan bersama Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universitas Sains Malaysia, 24 Maret 2012 di Dewan Kuliah A. Tentu, kita tak perlu menuding jari, sebab usaha untuk memartabatkan bahasa itu adalah kehendak bersama untuk memelihara jiwa kita bersama. Hanya saja, apabila pengkhianat itu masih memaksakan kehendaknya untuk menomorduakan bahasa kebangsaan, semua harus berdiri untuk menempelak kebebalannya.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen