Sisi Lain Perka(h)winan


Ketika memenuhi undangan kawan kampus, saya tentu membayangkan mahligai tempat sepasang pengantin sebagai penanda acara hajatan. Seperti di kampung saya, sebelum acara persadingan bermula, ada pelbagai kegiatan, misalnya tahlilah, diba' dan barzanji. Kumpulan Marhabanan yang berasal dari Bukit Payung membawakan persembahan dengan baik. Setelah usai, tuan rumah berdiri di depan rumah untuk menerima para tamu. Tak lama meletakkan badan di kursi, baru kami sadar bahwa musik yang mengalun itu adalah lagu qasidah lama Nasida Ria, Bismillah. Aha, ini adalah lagu kesenangan Ibu.

Sebelum memasuki tenda perhelatan, Nabbiyya dan ibunya mengabadikan peristiwa ini dengan bergambar di depan poster Selamat Datang. Di pertigaan jalan masuk, gambar serupa juga dipajang sehingga memudahkan tamu untuk menuju tempat undangan. Sebenarnya dalam kartu undangan, peta telah menyediakan informasi yang cukup, namun gambar ini telah menolong kita untuk tidak menghabiskan waktu untuk meraba-raba lokasi.

Makanan berlimpah. Musik pun tumpah ruah. Namun yang menarik, beberapa anak kecil membantu mencuci piring. Betapa kompak kampung ini! Di Jawa, kami mengenal istilah rewang untuk menggambarkan kebersamaan warga kampung dalam membantu tetangga yang sedang menggelar gawe (Orang Madura menyebutnya gebei). Semoga mereka bisa mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.

Comments

Wana Ainaa said…
cikgu..saya juga ada di kenduri itu..kerana pengantin perempuan adalah kawan saya..saya turut tidur disana sehari sebelum majlis kenduri...

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen