Menanamkan Nilai Melalui Cerita

Lomba bercerita ini adalah kegiatan yang digelar oleh panitia Pesta Buku UUM. Di sebelah area panggung, beberapa tapak penerbit buku memamerkan karya-karya dari pelbagai disiplin keilmuan.

Sejenak saya duduk di kursi untuk menikmati kisah yang dibacakan oleh anak-anak Sekolah Dasar (atau di Malaysia disebut Sekolah Rendah). Cerita Sang Kancil dan Tali Pinggang Sakti adalah salah satu judul cerita yang menarik untuk disimak. Meskipun mereka hanya menghapal, namun secara tidak langsung nilai-nilai yang ada dalam fabel tersebut bisa digunakan untuk mengajarkan anak-anak tentang moralitas.

Menariknya, salah seorang murid tak bisa mengingat cerita, sehingga dengan polos ia menghentikan penceritaan dan kembali ke pangkuan ibunya. Penonton pun tak bisa menahan tawa. Saya pun sempat memerhatikan salah seorang peserta yang membawakan kisah dengan cemerlang. Tidak hanya gaya penceritaan yang enak didengar, ia juga memeragakan gerak tubuh yang sesuai dengan isi cerita. Hakikatnya, cerita itu adalah alat untuk mengurai gagasan dengan indah. Kita bisa memahami ide filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre melalui novel ciptaannya, The Age of Reason. Jadi,  karya novel dan sejenisnya tidak bisa dipandang rendah. Karya fiksi apa yang Anda pernah baca?

Comments

M. Faizi said…
Banyak sekali. Yang jelas, karya fiksi prosa pertama yang mengesankan saya adalah Gadis Dalam Lukisan, karya Darwis Khudori. Buku ini saya baca dan saya miliki bukunya saat kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah, hadiah dari Penerbit Gaya Favorit Press
Ahmad Sahidah said…
Mas Kyai Faizi, betapa bertuahnya Anda karena ingatan masa kecil masih betah di benak. Saya menua, mudah lupa. Ha..ha..

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode