Tuesday, March 12, 2013

Filsafat itu Suka-Suka Kita

Di sela acara Musyawarah Tahunan Alumni ke-17 Universitas Sains Malaysia, saya mampir ke toko buku Borders. Alamak! Buku Deepak Chopra berjudul GOD tersenarai sebagai buku filsafat. Kita pun tahu, tokoh yang dikenal sebagai guru dari banyak artis Hollywood ini tidak lebih dari seorang motivator.

Adakah kesalahan ini dilakukan oleh pekerja toko atau memang karya ini layak untuk dipajang di bagian Philosophy? Mungkin, cabang filsafat Metafisika memungkinkan siapa pun untuk berbicara tentang Tuhan sebagai kegiatan pemikiran. Lagipula, kadang kita hanya perlu menerapkan kaedah Sokratik, bertanya, agar isu apa pun bisa dikategorikan sebagai perenungan filosofis.

Di luar urusan dunia ide, toko buku ini tidak lagi di bawah kepemilikan induknya, tetapi dimiliki sepenuhnya oleh Vincent Tan. Tak ayal, di sebuah sudut, warung kopi Starbucks turut hadir. Kita bisa membaca buku seraya menyesap rasa kopi Sulawesi. Sayangnya, perubahan desain interior telah menutup pemandangan pengunjung warung ke Pulau Jerejak dan laut. Boleh jadi, ini sengaja dibuat agar pengunjung tak berlama-lama untuk menghabiskan secawan kopi. Berbeda dengan warung kopi di kampung saya, pengunjung bisa duduk seharian dengan secangkir kopi yang seharga Rp 1000. Meskipun, sering terdengar bahwa pemiliki kedai kopi menggerutu karena seorang pengunjung berlama-lama dan tak membeli apa-apa selain seteguk-dua teguk minuman. 

2 comments:

M. Faizi said...

soal salah penempatan buku itu saya tidak bisa berkomentar, namun soal warung kopi di dekat toko buku itu memang keren meskipun saya belum pernah mencicipinya.

Di Madura, sekarang tarip kopi secangkir sudah jadi 2000, Pak Cik, Yang harga 1000-an mungkin, ya, masih ada namun menunya kopi rasa jagung sangrai :-))

Ahmad Sahidah said...

Mas Kyai, itu pun komentar Njenengan sudah tajam. Insyaallah, kalau Mas bertandang ke Kedah, saya akan ajak ke toko buku Starbucks untuk mencicipi kopi seraya membelek buku-buku 'sast[e]ra'.

Terus terang, saya tak bisa menahan tawa dengan kata penutup. Bau kopi 'rasa jagung sangrai' merebak, menusuk hidung.