Catur

Kaki saya terhenti. Ketika melewati Perpustakaan Hamzah Sendut, USM, saya melihat mahasiswa sedang bermain 'catur'. Saya pun bertanya pada salah seorang seorang dari mereka. Meskipun dengan singkat, dia menyebut tak ubahnya catur, tentu saya harus memastikan nama buah catur dan fungsi.

Karena harus segera menemukan buku di perpustakaan,  saya pun berlalu dan pada suatu saat nanti, saya bisa belajar permainan ini. Di dunia ini, kita tak lagi menyoal logika, siapa yang dipermainkan siapa, karena kita 'telah' bersepakat untuk bekerja dengan kesepakatan aturan. Ketika melanggar, permainan tak lagi bisa dilakukan.

Oleh karena itu, hidup itu permainan. Kita harus bersetuju untuk menjalan peraturan tertentu. Kalau tidak, hidup ini akan melaju kencang dan akhirnya menubruk apa saja, sehingga tak 'bermakna'. 

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode