Filsafat (Tak) Mudah

Dulu, buku filsafat berada di rak tersendiri. Beberapa hari yang lalu, saya mendapati buku filsafat di bawah AGAMA. Jelas, ini terkait dengan pemanfaatan ruang, bukan bidang. Menariknya, filsafat yang dikenal sebagai pengetahuan rumit bisa disampaikan dengan cerita kartun, dalam The Cartoon Introduction to Philosophy, seperti terpampang dalam gambar.

Malah, pemikiran Immanuel Kant yang susah dipahami tak lagi menjadi momok. Robert Wicks menulis sebuah pengantar (introduction) yang didahului kata lengkap (complete) dengan janji memahami Kant lebih cepat, menguasai subjek selangkah demi selangkap dan akhirnya menguji pengetahuan pembaca untuk membantu yang bersangkutan berhasil. Selain itu, di halaman pertama buku ini ditulis bahwa filsuf itu adalah orang yang berdarah dan bertulang, makan , minum, menawa, merenung dan secara perlahan menua. Tiba-tiba, saya berandai bahwa kita hanya perlu menjadi manusia untuk berpikir.

Saya pun membeli buku kecil berjudul The 15-Minute Philosopher yang ditulis oleh Anney Rooney (2014) dengan kata promosi ide-ide untuk menyelamatkan hidup Anda. Di antara begitu banyak kata kunci, saya terpegun dengan kata Jepang tsundoku, yang berarti membiarkan buku tak terbaca setelah membelinya. Lema ini tak dijumpai dalam bahasa Inggeris dan Indonesia. Aha, saya kadang melakukannya. Lalu, kalau hanya dibaca sebagian atau melompat-lompat? 

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen