Memahami Arus Mudik

Teman baik saya, Rafiuddin Dikdik Soaedy, menyertakan gambar ini dalam sebuah komentar terhadap status Facebook saya: Everyone seeks not what is tradisional but what is good (Aristotle, "Politics", 1998: 1269a 3-4). | Ketika tak mudik (tradisi) sebenyak 10 kali Idulfitri, kami merawat mimpi bersama (baik). Setelah cukup ongkos pulang, kami pun terbang ke kampung halaman. | Tak ada yang hilang dalam hidup, sebab kita bisa menggeser batas. Selamat lebaran, semoga meraih kesontasaan.

Saya suka komentar Mas Rafiuddin, mudik itu sunnatullah. Kembali ke kampung halaman adalah hukum alam, karena hubungan kemanusiaan terjaga dengan saling menyangga antara anggota keluarga. Ikatan-ikatan inilah yang menyebabkan manusia mengingat akar dan merasakan kembali tanah, udara, dan air tempat kelahiran. Namun, memeriksa hasrat untuk pertemuan juga perlu dilakukan. Ada kehendak yang jauh lebih besar dari sekadar silaturahim yang acapkali disandera oleh hasrat lain, seperti prilaku konsumtif, gaya hidup urban, dan narsisisme.

Namun, tetap saja mudik mendatangkan keriangan dan kegembiraan. Sayyid Umar, kawan baik, bercerita tentang mesin ATM yang kehabisan uang karena pemudik dari pelbagai sudut kampung menarik duit di anjungan tunai mandiri kecamatan. Warung makanan ramai dengan pengunjung yang bermobil dengan plat nomor dari banyak daerah, seperti Bali, Jakarta, dan Jawa Tengah, bahkan Kalimantan. Hanya saja, pandangan IDEAS (2016) layak ditimbang, bahwa biaya arus mudik dan balik sebanyak Rp 142 Triliun tidak efektif untuk menggerakan ekonomi secara produktif. Tapi, Herman, kawan saya yang suka berjamaah di Masjid Langgundhi menyela, bahwa nilai tradisi tak bisa ditukar dengan uang. 

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen