Monday, January 12, 2026

Hari ke-12 (Jazz Persia)


Saya mengenal Iran sejak Aliyah, kala berlangganan majalah Al-Quds dari Kedutaan Besarnya di Jakarta. Malah teman saya meletakkan gambar Ayatullah Ruhullah Khomeini di dinding pondok kala itu. Tulisan pertama opini saya di Jawa Pos terkait dengan pelarangan musik Barat oleh Ahmadinejad karena dianggap menjadi biang kemerosotan moral masyarakat.  

Dari catatan ini, https://ahmadsahidah.blogspot.com/search?q=agama+musik+politik), saya mengingat kembali lagi rujukan yang didapat dari Perpustakaan Hamzah Sendut Universiti Sains Malaysia dan percakapan dengan rekan-rekan Iran yang juga sedang belajar di USM, seperti Namatollah Azadmanesh (Syiah) dan Muhsin (Sunni) yang berdarah Rusia. Mereka kaum terpelajar yang memiliki sikap sendiri tentang politik. 

Untuk kesekian kalinya, negeri Persia bergolak. Amerika dan Israel selalu bermain dalam huru-hara ini, yang dipicu oleh motif ekonomi dan politik. Tentu, saya bisa memahami bahwa negeri para Mullah ini tidak tunggal. Teman saya dulu mendukung kembalinya Reza Pahlavi dan malah kala pemilu digelar di USM, Ahmadinejad tumbang. Itu artinya, tidak semua rakyat negeri Syam Tabrizy mendukung kepemimpinan ulama. 

Kini, sistem politik Wilayatuh Faqih diuji untuk kesekian kalinya. Bukan semata-mata pemusataan kekuasan pada para mullah, tetapi karena tekanan kehidupan warga dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu oleh sanksi Amerika dan Eropa. Apa pun, nasib bangsa ini ditentukan oleh warganya sendiri. Mereka telah mewarisi banyak tradisi dan akan menentukan pandangan dunianya sendiri. Demokrasi tidak bisa ditegakkan dengan paksaan dari luar, karena itu tidak murni sebagai wujud dari ide kesetaraan, tetapi kehendak adikekuasaan.

Dengan menikmati jazz Persia, saya hendak merenungi tempat kembali dalam hidup. Apa autentisitas itu? Keaslian itu adalah hari ini yang dijalani sepenuh hati dan akal budi. Masa lalu telah dilewati dan masa depan dikhayalkan, sementara masa ini dilalui dengan seluruh jiwa dan raga. Sepagi ini saya menikmatinya sambil tepekur mengapa kita tidak menikmati keindahan saja? Apakah tragedi itu harus ada untuk sejati?

 


No comments:

Hari ke-12 (Jazz Persia)

Saya mengenal Iran sejak Aliyah, kala berlangganan majalah Al-Quds dari Kedutaan Besarnya di Jakarta. Malah teman saya meletakkan gambar Ay...