Friday, February 20, 2026

Hari Kedua

Kami pergi ke masjid untuk menunaikan tarawaih. Begitu banyak orang yang hadir. Sebelum beranjak, maminya memfoto kami berdua. Ia berharap Kiki dan Akmal juga hadir seperti pada malam pertama. 

Pak Fauzan memimpin salat. Hafiz dan Roy berada di barisan pertama. Anak-anak begitu bersemangat untuk mengikuti salat tanpa lupa menyiapkan Jurnal Ramadan yang nanti diisi tanda tangan. 

Bagi kami, inilah peluang untuk berhenti sejenak memelototi gawai. 

Thursday, February 19, 2026

Puasa Pertama

Kami memulakan Ramadan dengan salat tarawih di masjid Ali bin Abi Talib. Sebelum isya, Kiki mengajak Zumi untuk pergi. Di sini, ternyata banyak anak yang juga sedang menunggu sembahyang. Betapa ramai malam pertama puasa. 

Tidak hanya itu, anak-anak juga membawa jurnal Ramadan dari sekolah masing-masing. Roy, anak Pak Furqon, yang duduk di sebelah saya juga membawa buku laporan. Saya tidak membawa bolpoin. Saya pun menukas, nggak apa-apa, nanti pinjam teman-teman lain. 

Zumi memilih salat tarawih di barisan belakang bersama Akmal dan Kiki. Saya pun membiarkannya agar ia merasa nyaman dengan salat malam ini. Maklum, ia sebelumnya sempat berpikir untuk melakukannya di rumah. Ia pun kini mudah bangun untuk makan sahur. 

Tuesday, February 17, 2026

Ruang Terbuka Hijau

Lalaport adalah salah satu mal terbesar di Bukit Bintang City Centre. Di sini, kita bisa menemukan banyak kedai makan dari pelbagai rasa dan negara. Selain itu, ada pusat hiburan, seperti bioskop dan pagelaran jazz. Dulu, saya dan teman menikmati pop lokal di warung makan yang menggelar musik live.

Di sini, ada taman yang bisa dijadikan tempat untuk menghentikan langkah sejenak bila kita berjalan kaki dari satu titik ke titik lain. Nama Hang Tuah terpatri kuat sebagai penanda tempat. 

Lalu, kami pun melanjutkan perjalanan sebab ingin segera sampai di tujuan. Ternyata, setelah sampai, kami pun meninggalkan untuk pulang ke tempat kami menginap. Jadi apa itu pencarian (quest)? 

KK Mart dan Novel

Sepulang dari Bukit Bintang, kami pun mampir ke warung kelontong. Inilah kedai yang paling dekat dengan penginapan dan kira-kira 10 meter dari Seven7. Sambil menunggu kami mencari barang, Biyya melanjutkan bacaannya, novel fantasi, Champion of Fate.

Lagi-lagi, ini tidak disengaja. Setelah makan di kedai Mamak Hamza, kami menyusuri mal Fahreinheit. Ternyata, di lantai dua, kami menemukan toko buku Book Excess. Kami pun masuk dengan riang. Betapa menyenangkan suasana di sini. Ada meja dan kursi yang menjadikannya tempat duduk yang nyaman seperti di rumah. 

Di sini, Biyya membeli The Champion of Fate yang dianggit oleh Kendare Blake. Tokoh utama, Reed, adalah seorang perempuan yang disumpah untuk menjadi anggota sebuah ordo untuk menyiapkan seorang pahlawan. Di sini, aroma mitologi Yunani kental, karena Aristene sebagai ordo diilhamkan dari Amazon dan dunia yang dibangun bernuansa Yunani kuno dengan para dewa, monster, dan gagasan tentang takdir dan kehormatan. 
  
 

Thursday, February 12, 2026

Warung Hamza

Sebelum mampir ke sini, kami menetapkan hari ketiga di Kuala Lumpur untuk berjalan-jalan di Bukit Bintang. Setelah beranjak dari penginapan, kami berjalan ke stasiun LRT Plaza Rakyat. Di sini, kami disarankan untuk turun di stasiun Hang Tuah. 

Alih-ali berpindah stesen untuk menuju ke BB, malah kami memilih berjalan kaki dengan menyusuri Lalaport, IMBI, dan akhirnya sampai di tujuan. Di sini, kami pun berfoto bersama. 

Setelah cukup lama, kami pun mencari warung. Tanpa peta, kami menemukan kedai Mamak ini, tak jauh dari mal Pavilion, untuk menikmati makan siang. Zumi malah memilih roti canai, yang biasanya kami nikmati untuk sarapan. Lidah tak bertulang, tetapi ia menikmati apa yang bikin kita riang. Sebagaimana mbaknya, si bungsu membesar dengan makanan ini. 
 

Wednesday, February 11, 2026

Kinokuniya Kuala Lumpur

Setelah berfoto di depan menara kembar Petronas, kami pun pergi ke toko buku Kinokuniya yang berada di lantai 4. Tak jauh dari tempat ini, ada Pusat Sains Negara yang dulu Biyya dan Zumi pernah mengunjunginya. 

Saya mengajaknya ke rak buku Islam agar Zumi bisa mengenal karya-karya keagamaan dari banyak sudut pandang setelah melalui lorong buku filsafat. Sementara Biyya mengelilingi rak novel, yang selalu menjadi pusat perhatiannya. Ia sempat menunjukkan buku nonfiksi tentang hukum. 

Saya sendiri sempat mencatat buku yang perlu dikoleksi nanti, yakni Our Philosophy oleh Muhammad Baqir as-Sadr. Sebenarnya buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, yang menunjukkan apresiasi kepada pemikiran kritis mazhab Syiah. Hakikatnya, label dan kumpulan itu batasan yang dibuat untuk menetapkan sesuatu yang jauh lebih dalam, yakni cara kita melihat dunia. Setelah menua, kita telah menggeser perbedaan pada pemaknaan yang jauh lebih sublim. 

Hidup kita ini bisa dikiaskan ke suasana di toko buku ini. Betapa pelbagai pemikiran bisa diletakkan di rak. Setiap orang tak perlu berteriak, tetapi hanya perlu memilih bacaan dan akhirnya menetapkan tindakan. Kematangan ditunjukkan dengan keadaban untuk menerima perbedaan. Sebagaimana kami tak bisa memaksa Zumi membaca dengan membeli buku. 


 

Tuesday, February 10, 2026

Sarapan

Pujasera atau medan selera (Food court) ini berada di lantai 4 UTC (Pusat Transformasi Bandar) Puduraya. Bangunan ini adalah bekas terminal bus. Ada ikatan emosional yang kuat dengan tempat ini. Dulu saya sering naik bus dari terminal ini ke Pulau Pinang. 

Kami memilih Selera Utara Eda nomor dua. Pelayannya yang sudah berkeluarga dengan orang lokal ini sangat ramah. Ia berasal Bangka Belitung. Saya memilih perkedel dan terung goreng. 

Istri mengambil popia pedas dan karipap untuk mengobati selera. Dulu, kami sering menikmatinya di Pulau Pinang, buatan Makcik Sri, emak angkat dan jiran kami. Sepertinya Biyya memuaskan kangennya pada teh tarik, sementara saya mengasup air mineral untuk mengurangi gula. Lingkungannya yang bersih dan tenang membuat kami nyaman berlama-lama di sini. 

Monday, February 09, 2026

Kenangan

Setelah sampai di penginapan di sekitar Puduraya, saya mengajak Zumi untuk mengingat awal-awal saya ke Kuala Lumpur pada tahun 2005-an. Setelah memilih bus di terminal KOMTAR, saya menghabiskan waktu 7 jam ke Puduraya. Dari sini, saya membeli air mineral sebelum berjalan kaki ke masjid Jamek untuk sejenak berehat dan di pagi hari naik LRT ke KL Sentral. Saya sering berjalan kaki di tengah malam dari Pudu Raya ke Masjid Jamek yang berjarak 755 meter dan memakan waktu 10-15 menit. 

Minimarket ini berada di seberang terminal bus Puduraya, tempat saya mencari tumpangan dari KL ke Pulau Pinang atau sebaliknya. Sementara, warung kopi, yang terpisah dua toko dari Seven7, yang pernah saya singgahi bersama Sidqi, mahasiswa S2 UNUJA, pada Oktober 2024 kini bertukar dengan kedai mie. 

Apa yang berubah dan kekal dalam hidup? Manusia bisa kehilangan jejak fisik, karena bangunan dirobohkan atau bertukar peruntukan, tetapi tidak kenangan. Saya tidak tahu, adakah Seven7 ini akan bertahan kala Zumi berada di sini pada tahun 2050? Mungkin tidak, tetapi ia tetap memerlukan air minum. Oh ya, harga Teh Pucuk (350ml) di sini RM 2.90, berkisar Rp 13.050 sesuai dengan kadar tukar uang di Juanda kemarin. Mengapa mahal? Karena nilai ringgit naik dan rupiah turun. 

Naik dan turun bisa terjadi kapan saja dan di mana saja serta untuk apa saja. Kita punya kendali diri bila jalan menurun dan menaik. Keduanya sama-sama mensyaratkan tahu diri. Klise, tetapi ini lah yang sejak dulu telah dipikirkan oleh banyak orang bijak. Mau apa lagi? Mungkin, kontemplasi itu perlu hadir kala kita berada di sebuah titik seraya merenung, ternyata kita tidak pernah pergi ke mana-mana karena kita tinggal di kepala dan hati kita.  

Terminal

Kami menunggu  di terminal sebelum jam keberangkatan ke Kuala Lumpur dengan QZ 324. Seraya menikmati sarapan di sini, kami ngobrol ke sana ke mari. 

Ada tempat sampah? Tanya Biyya. Ya, dekat televisi itu. Setelah membuang plastik ia kembali dan bercerita tentang anak kecil yang tidur begitu saja di lantai. Ia mungkin anak dari salah satu pengantar dari calon jemaah umrah. Maklum, saking banyak warga yang mengantar, kursi tunggu tak cukup. 

Terminal kini ramai. Namun lantai tetap bersih, termasuk kamar mandi. Petugas akan bergegas bila ada lantai kotor. Tindakan ini menyebabkan pengunjung juga turut menjaga kebersihan. Kita berharap kebiasaan ini bisa dilakukan di lingkungannya masing-masing, bukan?

Sunday, February 08, 2026

Wapo Tanjung

Kami menikmati mie ayam yang maknyus di sini. Anan-anak pergi ke sekolah. Seraya merangup krupuk dan sambal, kami menunggu dengan sabar dan mendengar lagu pop lama yang diputar oleh penjual.

Libur itu sama dengan lébur dalam bahasa Madura, menghibur. Prei? Apa artinya? Cuti? Apa maknanya? Apa semua bisa ditampung dalam kata?

Berlibur itu pasti menyenangkan karena kita terhibur. Kita bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja. Malah, kini musik, film, dan konten bisa mendatangkan kesenangan tanpa batasan dengan akses internet. Tetapi, sekali-kali kita berhenti untuk terus-menerus terpapar, bukan?

Kelapangan dan Kesempitan

 العارفون إذا بسطوا اخوف منهم إذا قبضوا
Orang arif lebih takut pada kelapangan daripada kesempitan. Kalimat pendek ini diurai secara mendalam oleh Kiai Zuhri pada pengajian pagi Syarh al-Hikam.
Dengan kesuksesan, misalnya, seseorang tidak lalai dengan kebajikan, dan dengan kegagalan tidak membuatnya hilang haluan. Sepertinya, kita hanya senantiasa memiliki dua pilihan, meskipun kita lebih sering menjalani kehidupan sehari-hari yang rutin.
Kami pun tepekur, bila hidup ini senantiasa memiliki dua sisi, maka apa pun keadaannya kita berterima. Apa ini membuat kita apatis? Tidak. Kita mesti meneguhkan pilihan di mana tempat kita berpijak. Kini, pijakan itu berada di dua ruang, nyata dan maya. Lalu, apa itu kenyataan dan kemayaan?

Kenyataan adalah apa yang dijalani sehari-hari, baik pribadi maupun kemasyarakatan. Di sini, kita betul-betul mengulang apa yang telah kita pernah lalui.

Friday, February 06, 2026

Makan Siang

Saya tak perlu membeli minuman karena membawanya dari kampus. Selain itu, saya mengurangi asupan gula. Brewok adalah salah satu warung yang menjual ayam goreng terenak di Paiton. 

Sekali-kali kami membeli ayam utuh untuk makan siang bersama melalui pesan antar. Dengan menikmati nasi dan sambal hijau, saya begitu merasakan rasa pedas yang pas. Pengalaman yang menyenangkan adalah makan siang bersama dengan Zumi sehabis sembahyang Jum'at di masjid Raudhah dusun Kebun. 

Kala sendirian, saya tepekur kapan saya bisa menghentikan sama sekali mengasup daging karena pertimbangan etika kebinatangan. Mengabaikan penderitaan hewan hanya karena mereka berbeda spesies adalah bentuk diskriminasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral, ujar Peter Singer, filsuf. Anda, bagaimana?
 

Thursday, February 05, 2026

Fana dan Baka


 وأما مع الفناء والبقاء فلا


Pagi ini, Kiai Imdad mengurai kebahagiaan berdasar pada tesis sufisme ini kala membacakan Syarh al-Hikam. Kesempitan (القبض) dan keluasan (البسط) itu subjektif. Keduanya hilang bila kita meniadakan ego (nafs) dan mengekalkan Tuhan (البقاء).

Beliau mengisahkan Bill Gates untuk menguatkan aforisme di atas. Para santri Aliyah, mahasiswa UNUJA, dan dosen bertepekur, jadi bagaimana hidup hendak diukur?

Keluasan seringkali dikaitkan dengan ukuran fisik.dan material. Tidak salah. Tubuh harus berada dalam ruang yang sêlesa dan waktu luang, tidak bergegas. Ruang sempit bikin pengap dan waktu terbatas bikin ngegas, tegang dan tekanan naik.

Wednesday, February 04, 2026

Rapor Akhlak

Apakah kesalahan harus dihukum? Sesuai aturan tindakan perku diambil dengan hukuman setimpal. Setelah melakukan audit di Badan Pengawas, Pak Anang Pribadi memeriksa Mahkamah Pesantren. 


Surveillance 1 ini dilakukan untuk memastikan implementasi klausul untuk perbaikan berkelanjutan. Keberhasilan pelaksanaan audit ini didukung oleh semua pihak, dari pimpinan hingga satuan kerja. Ada beberapa catatan yang diberikan oleh auditor, salah satunya adalah pengadaan rapor akhlak. 

Dengan penerapan ISO 21001:2018, kami bisa melayani santri, orang tua wali, dan pihak berkepentingan dengan baik. Tujuan belajar di pondok untuk mengaji dan membina akhlaqul karimah juga perlu diukur, baik secara kualitatif dan kuantitatif. 

Tuesday, February 03, 2026

Nisfu Sya'ban

Pak As'adi mengumumkan bahwa perayaan Nisfu Sya'ban akan digelar pada malam Selasa, 2 Februari 2026. Kami pun hadir salat magrib dan membaca Yasin sebanyak tiga kali. Sebelumnya Pak Fauzan memohon doa yang diaminkan oleh para warga, yang tediri dari orang dewasa dan anak-anak. 

Setelah selesai, Pak As'adi memimpin doa penutup dan mengumumkan bahwa kami memiliki waktu untuk menikmati kudapan dan minuman yang disediakan oleh warga sebelum azan isya. 

Betapa menyenangkan kami mengunyah makanan tradisional, seperti kratok (Kata Pak Umar) atau lanun (Kata Pak Sururi), makanan yang terbuat tepung kanji. Tentu ini adalah momen warga untuk bertukar cerita. Setidaknya dengan mendaras kitab suci dan melakukan silaturahmi, mereka merawat hati dan hubungan baik dengan tetangga. 

Lalu, mengapa kami melakukan kegiatan di atas? Mungkin The Need for Rootsnya Simone Weil bisa ditimbang. Kita perlu keberakaran agar hidup memiliki makna dan utuh. Sejak kecil, saya mengikuti acara rutin di atas. Mengapa menyenangkan? Karena puasa itu mendatangkan keriangan, seperti bermain di sawah dan sungai karena liburan dan makan lahap karena menunda di kala berbuka. 

Akar itu adalah keterikatan kami dengan komunitas, tradisi, budaya, sejarah, dan nilai moral. Para guru mengingatkan bahwa dengan berpuasa, kita merasakan lapar dan dari sini tumbuh kepedulian pada orang lain. Jadi, orang itu menjadi manusia dengan memulakan hidupnya dari tradisi tempat ia tumbuh dan besar. 

 

Monday, February 02, 2026

Semenanjung

Anak ini lahir di Pulau Pinang. Ari-arinya ditanam di halaman asrama Tasik Harapan, nama yang indah. Apa ada kaitannya dengan Tasikmalaya, tempat kelahiran Rhoma Irama? Tak jauh dari tempat ini, ada danau tempat kami sering menghabiskan sore dengan memberi makan remah roti ikan-ikan. Ia tumbuh dengan nalar yang ditempa oleh sekolahnya, sejak pra-sekolah, SD, SMP, hingga SMA.
Bacaannya menuntutnya untuk bertanya banyak hal, tentang identitas, bias, dan politik. Dulu kami berdua menjaganya dengan utuh dan menyeluruh. Seperti tulisan di kaus yang viral: saya akan melakukan apa yang saya ingin, di mana empat kata terakhir dicoret dan diganti dengan apa yang anak perempuan mau. Kemarin, saya sudah menunggu giliran untuk memotong rambut setelah tiga orang berlalu, tiba-tiba ada pesan bahwa Biyya ingin dijemput segera dan saya pun beranjak dari kedai Wijaya. Hehe
Dulu, pada 1921 Tan Malaka pernah bertemu dengan banyak pegiat Semenanjung untuk merumuskan bagaimana mengisi hidupnya sendiri, merdeka dari penjajah. Sayangnya, kedua negara, Indonesia dan Malaysia, berjalan dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, ikatan emosi itu tetap terjaga hari ini, setidaknya sebagaimana anak ini tumbuh dengan kebaikan kakek-nenek angkatnya di Pulau Pinang, kami memiliki banyak keluarga di sini.
Betapa 15 tahun tinggal di tanah Melayu ini meninggalkan bekas yang kuat. Ayah angkat kami yang Cina mualaf justru mengenalkan kami pada tradisi Abah Anom. Surat Yasin yang ditinggalkan oleh guru spiritual ini masih dibaca oleh istri. Ya, fikih itu memang perlu dipelihara, dan tasawuf yang akan menyatukan kita secara utuh.
Hidup di sini juga berkelindan dengan pandangan dunia Melayu. Seorang pedagang di kantin meminta saya untuk memberikan doa agar dagangannya terjaga dari hal buruk. Saya hanya berdoa untuk keselamatan. Lalu, ia bertanya, apa perlu pengeras? Tidak. Saya melakukannya sebagai insan biasa, tak perlu syarat, apalagi ayam hitam.
Sekali waktu, Bob pekerja kantin mengajak saya untuk pergi ke karaoke. Lalu di sana ia membawakan lagu-lagu Amy Search, yang malah menyeret saya ke pertigaan kampung, kala lagu Isabella mengalun pas saya berangkat sekolah ke MTs Annuqayah. Tak pasti, adakah radio itu milik Suparto? Ia adalah jiran kami yang menempel poster KISS di tembok rumahnya.
Sejalan dengan perjalanan semua ini, pengalaman yang mengubah saya melihat banyak hal adalah kunjungan ke rumah Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat. Dengan melihat kediaman dan masjidnya di pulau Melaka, saya menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. Aura dan suaranya lahir dari kedalaman batin dan ketulusan hati.

 

Sunday, February 01, 2026

Ngopi

Sepulang dari merayakan ulang tahun Fani temannya yang ketujuhbelas, Biyya minta berhenti di sini untuk membeli Macchiato. Saya pun senang alang kepalang karena bisa menemaninya sambil membaca Reason: Why Liberals Will Win the Battle for America oleh Robert B. Reich yagn diterbitkan pada 2004. 

Buku di atas ditulis untuk pembelaan terhadap liberalisme dan kritik yang apa yand diistilah oleh Reich dengan "Radcons" (Radical Conservatives). Sebagai mantan sekretaris buruh AS, ia yakin bahwa sebagian besar warga Amerika meyakini nilai-nilai liberal, seperti hak untuk memilih jenis kelamin, agama, dan aborsi. Biyya sendiri membawa buku Tafsir Feminis Asghar Ali Engineer. 

Sayangnya, ia memilih membawa pulang segelas kopi. Kami pun beranjak pergi untuk segera sampai di rumah. Hidup kadang berjalan bukan atas dasar keinginan, tetapi kenyataan. Toh, menyesap qahwah dan meneruskan bacaan bisa dilakukan di kediaman. 

Hari Kedua

Kami pergi ke masjid untuk menunaikan tarawaih. Begitu banyak orang yang hadir. Sebelum beranjak, maminya memfoto kami berdua. Ia berharap K...