Friday, February 20, 2026
Hari Kedua
Thursday, February 19, 2026
Puasa Pertama
Tuesday, February 17, 2026
Ruang Terbuka Hijau
KK Mart dan Novel
Thursday, February 12, 2026
Warung Hamza
Wednesday, February 11, 2026
Kinokuniya Kuala Lumpur
Saya mengajaknya ke rak buku Islam agar Zumi bisa mengenal karya-karya keagamaan dari banyak sudut pandang setelah melalui lorong buku filsafat. Sementara Biyya mengelilingi rak novel, yang selalu menjadi pusat perhatiannya. Ia sempat menunjukkan buku nonfiksi tentang hukum.
Saya sendiri sempat mencatat buku yang perlu dikoleksi nanti, yakni Our Philosophy oleh Muhammad Baqir as-Sadr. Sebenarnya buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, yang menunjukkan apresiasi kepada pemikiran kritis mazhab Syiah. Hakikatnya, label dan kumpulan itu batasan yang dibuat untuk menetapkan sesuatu yang jauh lebih dalam, yakni cara kita melihat dunia. Setelah menua, kita telah menggeser perbedaan pada pemaknaan yang jauh lebih sublim.
Hidup kita ini bisa dikiaskan ke suasana di toko buku ini. Betapa pelbagai pemikiran bisa diletakkan di rak. Setiap orang tak perlu berteriak, tetapi hanya perlu memilih bacaan dan akhirnya menetapkan tindakan. Kematangan ditunjukkan dengan keadaban untuk menerima perbedaan. Sebagaimana kami tak bisa memaksa Zumi membaca dengan membeli buku.
Tuesday, February 10, 2026
Sarapan
Monday, February 09, 2026
Kenangan
Minimarket ini berada di seberang terminal bus Puduraya, tempat saya mencari tumpangan dari KL ke Pulau Pinang atau sebaliknya. Sementara, warung kopi, yang terpisah dua toko dari Seven7, yang pernah saya singgahi bersama Sidqi, mahasiswa S2 UNUJA, pada Oktober 2024 kini bertukar dengan kedai mie.
Apa yang berubah dan kekal dalam hidup? Manusia bisa kehilangan jejak fisik, karena bangunan dirobohkan atau bertukar peruntukan, tetapi tidak kenangan. Saya tidak tahu, adakah Seven7 ini akan bertahan kala Zumi berada di sini pada tahun 2050? Mungkin tidak, tetapi ia tetap memerlukan air minum. Oh ya, harga Teh Pucuk (350ml) di sini RM 2.90, berkisar Rp 13.050 sesuai dengan kadar tukar uang di Juanda kemarin. Mengapa mahal? Karena nilai ringgit naik dan rupiah turun.
Naik dan turun bisa terjadi kapan saja dan di mana saja serta untuk apa saja. Kita punya kendali diri bila jalan menurun dan menaik. Keduanya sama-sama mensyaratkan tahu diri. Klise, tetapi ini lah yang sejak dulu telah dipikirkan oleh banyak orang bijak. Mau apa lagi? Mungkin, kontemplasi itu perlu hadir kala kita berada di sebuah titik seraya merenung, ternyata kita tidak pernah pergi ke mana-mana karena kita tinggal di kepala dan hati kita.
Terminal
Ada tempat sampah? Tanya Biyya. Ya, dekat televisi itu. Setelah membuang plastik ia kembali dan bercerita tentang anak kecil yang tidur begitu saja di lantai. Ia mungkin anak dari salah satu pengantar dari calon jemaah umrah. Maklum, saking banyak warga yang mengantar, kursi tunggu tak cukup.
Terminal kini ramai. Namun lantai tetap bersih, termasuk kamar mandi. Petugas akan bergegas bila ada lantai kotor. Tindakan ini menyebabkan pengunjung juga turut menjaga kebersihan. Kita berharap kebiasaan ini bisa dilakukan di lingkungannya masing-masing, bukan?
Sunday, February 08, 2026
Wapo Tanjung
Libur itu sama dengan lébur dalam bahasa Madura, menghibur. Prei? Apa artinya? Cuti? Apa maknanya? Apa semua bisa ditampung dalam kata?
Berlibur itu pasti menyenangkan karena kita terhibur. Kita bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja. Malah, kini musik, film, dan konten bisa mendatangkan kesenangan tanpa batasan dengan akses internet. Tetapi, sekali-kali kita berhenti untuk terus-menerus terpapar, bukan?
Kelapangan dan Kesempitan
Friday, February 06, 2026
Makan Siang
Thursday, February 05, 2026
Fana dan Baka
وأما مع الفناء والبقاء فلا
Pagi ini, Kiai Imdad mengurai kebahagiaan berdasar pada tesis sufisme ini kala membacakan Syarh al-Hikam. Kesempitan (القبض) dan keluasan (البسط) itu subjektif. Keduanya hilang bila kita meniadakan ego (nafs) dan mengekalkan Tuhan (البقاء).
Beliau mengisahkan Bill Gates untuk menguatkan aforisme di atas. Para santri Aliyah, mahasiswa UNUJA, dan dosen bertepekur, jadi bagaimana hidup hendak diukur?
Keluasan seringkali dikaitkan dengan ukuran fisik.dan material. Tidak salah. Tubuh harus berada dalam ruang yang sêlesa dan waktu luang, tidak bergegas. Ruang sempit bikin pengap dan waktu terbatas bikin ngegas, tegang dan tekanan naik.
Wednesday, February 04, 2026
Rapor Akhlak
Tuesday, February 03, 2026
Nisfu Sya'ban
Setelah selesai, Pak As'adi memimpin doa penutup dan mengumumkan bahwa kami memiliki waktu untuk menikmati kudapan dan minuman yang disediakan oleh warga sebelum azan isya.
Betapa menyenangkan kami mengunyah makanan tradisional, seperti kratok (Kata Pak Umar) atau lanun (Kata Pak Sururi), makanan yang terbuat tepung kanji. Tentu ini adalah momen warga untuk bertukar cerita. Setidaknya dengan mendaras kitab suci dan melakukan silaturahmi, mereka merawat hati dan hubungan baik dengan tetangga.
Lalu, mengapa kami melakukan kegiatan di atas? Mungkin The Need for Rootsnya Simone Weil bisa ditimbang. Kita perlu keberakaran agar hidup memiliki makna dan utuh. Sejak kecil, saya mengikuti acara rutin di atas. Mengapa menyenangkan? Karena puasa itu mendatangkan keriangan, seperti bermain di sawah dan sungai karena liburan dan makan lahap karena menunda di kala berbuka.
Akar itu adalah keterikatan kami dengan komunitas, tradisi, budaya, sejarah, dan nilai moral. Para guru mengingatkan bahwa dengan berpuasa, kita merasakan lapar dan dari sini tumbuh kepedulian pada orang lain. Jadi, orang itu menjadi manusia dengan memulakan hidupnya dari tradisi tempat ia tumbuh dan besar.
Monday, February 02, 2026
Semenanjung
Sunday, February 01, 2026
Ngopi
Hari Kedua
Kami pergi ke masjid untuk menunaikan tarawaih. Begitu banyak orang yang hadir. Sebelum beranjak, maminya memfoto kami berdua. Ia berharap K...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ke negeri Temasek, kami menikmati nasi padang. Kala itu, tidak ada poster produk Minang asli. Pertama saya mengudap menu negeri Pagaruyung ...















