Wednesday, August 17, 2005

memutar jarum jam

Telat bangun, membuat aku terburu-buru. Semalem, berbicara musik dengan teman Syam di paras 10 sampai larut, bilik Mas Dolok. Heran juga, ia mempunyai minat pada lagu jazz, bahkan menulis dan menyanyikan lagu ciptaannya, di antaranya lagu untuk ibu dan kekasihnya di Kualalumpur. Namanya juga lelaki, selalu saja tentang perempuan. Bahkan, kami sempat membawakan lagu dengan cabikan gitarnya seperti Bumiputera Rocker, Rahim Maroof, Ami. Semua dalam bingkai kegembiraan, melepas penat! Siapa sih yang suka jazz? ia juga menyebut James Imgram dan Barry Manilow, pentolan musik kulit hitam. Selera yang unik. Tidak populer, memang. Tapi, itu menghilangkan dahaganya akan musik, yang disebutnya berkualitas tinggi [aku tidak pasti, ini hanya penilaian].
Pagi yang cerah, saya berangkat ke kampus bersama Doni, tetangga bilik. Di bus, saya bertemu Pak Ilyas, Romi dan melihat Deo dari jauh berjalan. Terdengar Ini Rindu dari Farid Hardja. Seperti, di negeri sendiri saja. Bahkan, ketika sarapan di Kantin dekat perpustakaan, saya juga mendengar sayup lagu Betaria Sonata dan lagu-lagu Indonesia tahun 80-an dan 90-an.

Menurut saya, di sini, semua menceritakan hal yang sama. Sebab, akarnya sama. Tak ada beda.

1 comment:

SariBulan said...

benar. tiada yang berbeda. biar iramanya lain ia tetap lagu. liriknya hampir sama, cerita manusia dan alamnya. atau mungkin juga cerita hamba pada Khaliknya. tapi kamu sekarang terlalu berbeda. nape ye?