ألارض مسجد

Semalem, kami melewati malam dengan duduk melingkar, mencoba untuk berbagi tentang 'akar' [baca: batin, religi, ikhwal transenden, atau apapun namanya]. Setiap senin malam, dengan terbata-bata, kami mencoba untuk meresap 'firman' ke dalam seluruh madah kami. Satu persatu mengungkap kegelisahan, keyakinan, keraguan, pencarian, jawaban dan pertanyaan, semua berjalin kelindan menjadi utuh: kerinduan. Ya, setiap orang menelusuri 'jalan' yang masih 'remang', mencari cahaya untuk menerangi agar langkah kaki tak tersandung.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah menyatakan bahwa agama jangan dibekap di masjid saja, ia mesti melimpah di manapun jua, bahkan di starbucks. ألارض مسجد kata Nabi. Bumi kita ini adalah masjid. Secara metaforik, beliau menegaskan bahwa semua bisa menjadi tempat untuk 'menyapa' Tuhan, meskipun kadang agak susah jika itu mesti dibacakan di tempat-tempat publik. Oleh karena itu, cukup di hati, jika tidak akan mengundang cemoohan, sebab kita adalah orang aneh yang sedang pamer menjadi orang saleh.

Lalu, pernahkah 'tuhan' hadir dalam keramaian? Agak riskan mengatakan ya. Maka sebelum itu menjadi kesadaran, biarkah kita memulai dari rumahnya [masjid dalam bentuk fisik]. Belajar alif, ba dan ta dengan menyicil, tak perlu instant, karena kita sedang melatih 'kaki' merangkak, berjalan dan akhirnya berlari menuju puncak.

***

Selesai sudah mengisi 'hati' dengan asupan, lalu kami beranjak untuk pergi ke Gelugor, makan malam. Kadang, saya protes, apakah hidup kita ini hanya untuk melakukan 'ritual' ini berulang-ulang? Tidakkah, upacara ini dilompati saja untuk digantikan dengan sesuatu yang baru: makan cukup sekali, tak perlu tiga kali. Hidup cuma sebentar hanya untuk dihabiskan di meja makan.

Pulang dengan bayangan bisa ke katil untuk tidur dan diawali dengan membaca roman Taufik Ikram Jamil Gelombang Sunyi sambil mendengar lamat-lamat suara radio yang tanpa mengenal lelah menghibur. Tak pasti, pukul berapa saya mematikan lampu dan menutup buku untuk memejamkan mata. Lelap. Sungguh lelap karena saya hanya minum air putih setelah makan, tidak teh tarik yang mengandung kafein. Tidak hanya itu, malah mimpi malam ini indah. Saking lelapnya, saya tidak tahu kalau pukul tiga hujan deras dan bel sirine tanda kebakaran berdenting. Saya hanya merasakan pagi yang menyemburatkan sinar, memantulkan kesegaran dan cerita teman karib bahwa bel itu mengganggu tidurnya.

Sarapan di bakti cermai adalah cerita lain tentang tempat favorit karena mata diperlihatkan taman yang kehijauan karena air hujan semalam membuatnya basah. Bahkan, sisa-sisa air berjatuhan dari ranting karena sekawanan burung menginjakkan kakinya. Ups, butiran-butiran itu berkilauan di tempa cahaya pagi. Benar-benar pemandangan yang menentramkan!

Oh ya, tadi saya bertemu dik Woelan, dengan jilbab menutupi rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai. Sapa dan salam menghiasi pertemuan. Telah lama kami tidak bercengkerama, tapi itu udah cukup untuk memulai kembali hari-hari yang penuh canda.

Ahmad : Gi mana persiapan untuk persembahan ISEAC?
Woelan : Nggak tahu, nech lagi batuk.
Ahmad : Dari mana?
Woelan : Ada kelas, tadi.
Fauzi : Wah, sepagi ini udah kelar kuliah? [teman karib Melayu saya]
Woelan : [tersenyum]

Lalu, kami memilih 'tempat' yang berbeda untuk bertemu lagi di lain suasana.

Comments

Popular Posts