redup, murung, dan terpental

Di meja pinggir Jendela, minggu 26 Februari 2006

Betapa saya sering merindukan hujan di sini. Seperti pagi ini, saya menikmati ‘redup’ karena langit sedang meneteskan air ke bumi. Tapi, redup tidak berarti murung, redup adalah keinginan untuk membuat hati ‘dingin’, otak tidak meradang karena dibebani oleh ‘banyak’ ingatan yang hasus dilesakkan.

Hari ini, semua berjalan seperti biasa. Sarapan, baca dan menulis untuk blog. Saya tidak ingin menyebutnya rutinitas, lebih jauh intensitas. Pengulangan itu tidak mesti membuat kita bosan, apalagi merasa skeptis, karena hidup tak lebih dari mesin raksasa, yang kita adalah bagian komponen. Jika tidak mengikuti alurnya, kita terpental, berada di luar sistem, membuat gamang untuk memulai dari mana lagi mesti mengisi hari-hari.

Menulis artikel tidak hanya membuat otak bekerja, tapi rasa turut andil dalam merubah estetikasi kalimat. Keduanya tak perlu diceraiberaikan, mungkin prosentasenya aja yang tidak imbang. Ya, selalu ada ketegangan antara keduanya, tarik menarik dan tak perlu berada pada titik ekstrim.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen