Monday, February 27, 2006

Membaca Kembali

Sebelum tidur, saya sering membuka kembali buku Catatan sang Demonstran Gie. Dulu, semasa di S1, saya pernah membacanya dalam bentuk buku saku, dengan warna sampul hijau.

Saya rasa ada banyak 'kejujuran' karena ia ditulis sebagai milik pribadi, bukan milik publik. Menelaah buku yang telah usai konteksnya, saya hanya bisa meraih semangat yang berserak di mana-mana. Untuk itu, Gie mesti membayar mahal, perasaan sepi karena semakin sulit untuk dipahami dan menambah orang yang memusuhi.

Ternyata, saya juga naif karena masih berkutat dengan dunia yang mesti dilalui, dunia gemeretap karena tidak rela pembusukan terjadi, bahkan di sekitar kita sendiri. Usia beranjak tua, seharusnya pendulum tidak lagi bingung ke kanan dan ke kiri, hanya karena menjalankan tugasnya sebagai penanda 'jam' [hidup?] terus berjalan.

Sekarang, saya harus mengambil alih 'tuntutan' kerumunan menjadi 'keyakinan' pribadi yang tidak dapat diusik oleh orang lain. Inilah kesejatian yang perlu ditegakkan, meskipun pondasinya kadang rapuh.

Dimulai, Gelombang Sunyi oleh Taufik Ikram Jamil, saya mencoba mengisi 'masa luang' dengan menerapkan 'kajian' yang ditekuni, aplikasi!!! Ya, saya sedang bergelut dengan hermeneutik, yang dijadikan sandaran untuk memulai 'menyingkap' huruf, menjemput makna dan akhirnya melakukan tindakan.

Kata Georgia Warnke, kita kadang bisa membayangkan isi buku dari Judulnya. Biasanya, saya mendengar kata Gelombang, sesuatu yang muncul pertama adalah laut dan suara: ya, gelombang ombak dan radio saya berbunyi karena ada gelombang. Lalu, sunyi? Ah..kata ini hampir-hampir tidak hanya menjadi kata utama, tapi juga mendera kesendirian adalah suasana tanpa suara, kata bahkan bunyi. Pernahkah ini terjadi di tengah hiruk-pikuk manusia dan jejalan teknologi yang mengepung rumah kita? Mestikah aku lari ke hutan? Di sana masih ada suara mesin menggerus pohon, suara binatang ketakutan karena manusia membabat habis habitatnya, dan akhirnya saya tahu bahwa sunyi bisa hadir di hati, sambil menarik napas akhirnya sunyi itu nyata.

Sebagai sebuah roman [Taufik tidak suka kata Novel], buku ini akan menemani saya sebelum tidur, bahan agar mimpi saya tidak hanya kenyataan tapi juga memang betul-betul impian yang diharapkan menjadi kenyataan. Atau, inikah cara membunuh imsomnia yang kadang menghantui saya menjelang tidur? Tidak, saya susah tidur karena minum teh tarik yang mengandung kafein. Maka, jangan coba-coba mereguknya di waktu malam.

No comments: