Musik, Agama dan Politik

Jumat, 17 Mar 2006,

Musik, Agama, dan Politik

Oleh Ahmad Sahidah
Pelarangan musik Barat di Iran oleh Presiden Ahmadinejad yang berpandangan ultrakonservatif menambah panjang daftar kontroversi sepak terjangnya. Sebelumnya, dia menyatakan Israel perlu dihapus dari peta dunia dan sejarah Holacoust, pembunuhan 6 juta orang Yahudi oleh Nazi Eropa pada Perang Dunia Kedua, adalah gombal. Sementara Eropa sekarang tidak memedulikan penindasan Israel terhadap Palestina. Tentu saja, pembangunan reaktor nuklir paling banyak menyedot perhatian kalangan internasional untuk mengikuti perkembangannya.

Meski pernyataan orang nomor satu di Republik Islam Iran itu diserang banyak politisi dan pejabat pemerintahan di Eropa, Amerika, dan Australia, dia bergeming. Dia menganggap pendapatnya sebagai kebebasan berekspresi yang sejatinya harus dijunjung oleh orang Barat yang gandrung akan toleransi terhadap perbedaan.

Namun, instruksi sang presiden agar musik Barat tidak dikumandangkan di sejumlah radio dan televisi mengundang protes di dalam negeri, terutama oleh para musisi. Mereka menganggap presiden tidak mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Instruksi itu juga dinilai telah memukul balik raisons d’ĂȘtre, kebebasan yang dijadikan pijakan mantan wali kota Teheran ini ketika melontarkan pendapat mengenai Israel dan Holacoust.

Islam dan Musik

Sebenarnya dalam sejarah pemikiran Islam, banyak pemikir muslim yang telah melahirkan teori musik. Di antaranya Al-Farabi dengan bukunya Kitab al-Musiqi al-Kabir (Buku tentang Musik Agung). Mereka telah memberi inspirasi perkembangan musik dalam Islam, meskipun dalam sejarahnya penerimaan terhadap musik terbelah ke dalam dua kubu: pro dan kontra.

Memang, di dalam salah satu varian pemikiran Islam terdapat kelompok yang mengharamkan musik karena akan memalingkan manusia beriman dari Tuhan. Tetapi, mayoritas ulama menerima dengan syarat, seperti ditulis Al-Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin, untuk meningkatkan ibadah, memacu semangat berperang, menimbulkan keberanian pada masa perang, menimbulkan kesenangan, mendatangkan cinta dan kerinduan, serta melahirkan cinta pada Tuhan.Sedangkan musik itu dilarang ketika disuarakan oleh perempuan dalam kondisi tertentu, alatnya jelas-jelas dilarang, materi lagu bertentangan dengan semangat dan ajaran agama, penikmatnya dikuasai nafsu dan mendengar musik untuk musik itu sendiri. Sayang, rumusan ini tidak bisa dijadikan acuan yang ketat karena apresiasi dan budaya masyarakat tentang kesenangan dan selera itu berbeda. Sehingga, bentuk-bentuk musik yang dinilai melanggar ajaran agama bisa multitafsir. Musik, menurut kalangan sufi, adalah sarana mendekatkan diri pada Tuhan. Misalnya, dalam ordo darwish Jalaluddin Rumi. Sedangkan bagi kalangan ortodoks, musik itu haram, seperti dianut oleh banyak kaum puritan di Arab Saudi.

Lebih jauh, menurut Ammon Shiloah dalam Music in the World of Islam: A Socio-Cultural Study (1995), relasi Islam dan musik itu berkaitan dengan sistem pemikiran, yang meminjam pemikiran Max Weber, makna teologis dari konsepsi manusia tentang dirinya dan tempatnya di jagad ini, konsepsi yang melegitimasi orientasi manusia di dan untuk dunia serta memberikan makna pada pelbagai tujuannya. Betapa kompleksitasnya musik dalam ranah sosial kehidupan masyarakat.

Motif Pelarangan

Secara sederhana, penolakan terhadap musik Barat oleh penguasa Iran bisa dikatakan bernuansa politik akibat tekanan Barat terhadap isu nuklir Iran dan pesanan kekuasaan klerus yang merupakan basis dukungan presiden. Sebagaimana kata teman saya di program doktor ilmu humaniora USM, Nematollah Azadmanesh, bahwa radio dan televisi di dalam konstitusi Iran berada di bawah legislasi pemimpin spiritual, Ayatullah Khameini. Karena itu, wajar jika keputusan ini diinstruksikan dan akan dievaluasi pelaksanaannya dalam enam bulan ke depan.

Namun, seperti ditulis Ella Zonis dalam Classical Persian Music: An Introduction (1973), musik Iran sebenarnya banyak dipengaruhi oleh Islam. Tapi, ia juga sangat dipengaruhi serangan banyak penakluk lain, seperti bangsa Turki dan Mongol pada abad ketujuh hingga kelima belas. Ketika itu banyak musisi terlibat dalam ordo sufi sebagai respons terhadap penaklukan, termasuk pengaruh Barat sekarang ini telah melahirkan teori dan praktik musik tersendiri. Ini berarti Iran tidak bisa mengingkari hubungan dengan negara luar.Kebijakan yang tidak populer ini sebenarnya memperoleh dukungan dari konstituen dalam negeri sendiri, sebagaimana tecermin dalam sebuah obrolan dengan salah seorang mahasiswa Iran di Malaysia, bahwa musik tradisional Iran itu lebih sesuai dengan karakter kepribadian mereka dan musik Barat telah meracuni pikiran generasi muda. Dengan lugas dia berkata bahwa western music is corrupted and be able to destroy young generation mind. Berbeda dengan sejawatnya, Reza Pasha yang sangat apresiatif dengan musik dalam negeri bercorak modern dan lebih mendukung bekas raja Iran untuk kembali berkuasa. Meskipun berlainan pendapat, secara keseluruhan mereka sangat kritis terhadap kolonisasi budaya Amerika.

Terlepas dari peristiwa menghebohkan ini, postmodernisme telah memberikan ruang pada yang marjinal, terpinggirkan untuk mengada (exist). Barat adalah sebagian wajah kemanusiaan yang tidak bisa dipaksakan untuk dijadikan gaya hidup di mana pun. Namun, kekuatan media massa mereka telah menghipnotis banyak orang di dunia untuk meniru dan menjadikan gaya hidupnya. Perlawanan apa pun sebenarnya absah, tetapi perlu dipikirkan implikasi pada pengekangan terhadap kreativitas dan kebebasan.

Ahmad Sahidah, kandidat doktor pada Jurusan Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia.

<<:: Kembali


----------------------------------------------
Best View : 1024 x 768 with IE 5.5 or above
© 2003, 2004 Jawa Pos dotcom.

Comments

Popular Posts