Pindah Ke Lantai 9

Pagi yang diselimuti mendung, bumi dihinggapi tetesan air dari langit yang muram, kabut di bukit masih betah menelungkup dan tak mau beranjak, suasana yang benar-benar beda dengan hari-hari sebelumnya.

Saya bergegas ke kantin bawah untuk sarapan agar mempunyai tenaga memulai kegiatan yang membosankan. Lalu, ilham muncul untuk segera mengemas barang ke atas, agar dunia baru lahir di ketinggian 200 kaki, dengan pemandangan bukit yang hijau segar. Sedikit demi sedikit, ruang baru yang masih tersisa bau cat dan debu. Ada warna lain yang menyeruak mengisi 'benak'. Mungkin, di atas, saya bisa melihat lebih luas dan juah dibandingkan dengan kamar di lantai satu yang hanya dibekap dalam pemandang parkir dan lalu lalang orang.

Hari pertama, tetangga kamar, mahasiswa Cina yang sedang belajar kaji hayat (biologi) membuka lembaran baru saya. Namanya Jerry. Tampak muda sebagai kandidat Doktor. Orangnya ramah. Mungkin, lain kali, kami bisa bercakap tentang kenyataan dalam ranah ilmu ini.

Selalu saja ihwal baru mendatangkan keasingan dan saya tahu waktu yang akan membuat segala sesuatu menjadi dekat. Nikmati saja yang lain, yang tidak dikenal, agar hidup ini tidak menjadi mesin, yang hanya berjalan sesuai dengan 'cetakannya'.

Komitmen kuat telah berkeliaran di sekitar ruang yang masih tampak kosong melompong. Rencana telah dirancang untuk menghabiskan waktu menekuri layar komputer, menata huruf menjadi kalimat dan akhirnya paragraf. Puncaknya, bab akan tersusun menjadi sebuah karya. Selesai.

Maka, hari ini kamar itu menjadi saksi akan perjalanan sebuah disertasi.

Comments

Popular Posts