Rindu Rumah

Meskipun negeri Jiran ini tak begitu jauh dari tanah air, tapi tak jarang kangen menyeruak di sela-sela kuliah. Hari ini saya mengobatinya dengan mendengarkan Radio One Jakarta 101 FM. Meskipun lagu-lagu yang diperdengarkan adalah lagu Barat, namun diselingi dengan cuap-cuap sang penyiar yang khas Indonesia.

Sebenarnya agak rumit untuk mengurai keaslian milik kita. Sepertinya, kita hanya berbicara sesuatu yang lain, bukan milik kita, tapi telah mengalami proses pendarahdagingan (internalisasi), bahkan suara murni kita juga menggunakan tradisi liyan karena ia memang populer. Globalisasi telah menemukan 'tempatnya'.

Supaya energi tidak habis untuk mencari yang otentik, mungkin perdebatannya tidak difokuskan pada bentuk tapi apa yang ingin disampaikan. Saya rasa semua boleh mengungkapkan pengalamannya, meskipun itu diambil dari yang lain. Toh, ini tidak lebih hanya persoalan sejarah sehingga ia lebih akrab dengan dunia 'jauh' di sana, dibandingkan apa yang ada di dekatnya. Tentang musik, saya tidak pernah mendengarkan lagu daerah saya sebagai bagian dari relaksasi. Justeru, lagu-lagu Barat, Arab dan sebagian instrumentalia yang juga diimpor dari Barat. Lebur menjadi diri yang cair.

Terhenti sejenak, sayang penyiar sedang membahas kota Solo. Sebuah tempat yang hanya satu jaman dari tempat saya tinggal. Lalu, lagu berkumandang lagu. Tak akrab. Tapi dibiarkan sebab menunggu penyiarnya ngoceh lagi dan lagu kita sendiri.

Sementara saya kembali lagi ke penulisan disertasi untuk menyelesaikan tugas yang menyita segenap pikir, rasa dan jiwa. Sesuatu yang dipertaruhkan untuk masa depan.

Comments

Popular Posts