Hari yang Menyenangkan

Hari ini begitu menyenangkan. Ini karena saya mendapatkan dua bahan yang sangat penting untuk penulisan bab 2 Metodologi. Keduanya adalah The Aims of Interpretation oleh E. D. Hirsch, Jr dan Interpretation: An Essay in the Philosophy of Literary Criticism oleh P. D. Juhl. Ketika mata ini melihat buku ini, secara spontan saya ingin melonjak girang, tapi tertahan karena berada di perpustakaan.

Dari Hirsch, saya ingin mendalami pembedaan hermeneutik antara makna dan signifikansi. Makna dan hubungannya dengan penafsiran yang valid merupakan subjek sentral dari karya sebelumnya (Validity in Interpretation), sedangkan yang terakhir adalah sentral di dalam buku The Aims of Interpretation. Dua hal ini sangat penting di dalam pemahaman karya literer.
Makna (meaning) merujuk pada seluruh makna verbal dari teks, dan signifikansi (significance) berkaitan dengan sebuah konteks yang lebih luas, yaitu, pemikiran lain, era lain, pokok persoalan yang lebih luas, sebuah sistem nilai yang asing, dan sebagainya. Dengan kata lain, signifikansi adalah makna tekstual berhubungan dengan beberapa konteks, bahkan konteks apa pun melampuai dirinya (hlm. 2-3).

Hirsch berkeyakinan bahwa hal ini perlu jelas agar kita bisa memperoleh kepastian dan kestabilan makna dan oleh karena itu kemungkinan pengetahuan hermeneutik. Pembedaan ini jauh dari dangkal, malahan bersifat alamiah dan universal di dalam pengalaman kita. Pada kenyataannya, jika kita tidak bisa membedakan sebuah kandungan kesadaran dari konteksnya, kita sama sekali tidak bisa mengetahui objekapa pun di dunia ini. Konteks di mana sesuatu dikenal selalu merupakan sebuah konteks yang berbeda di dalam sebuah kesempatan yang berbeda. Tanpa mengaktualisasikan pembedaan ini, kita tidak bisa mengakui hari ini pengalaman kita yang kemarin: tempat tinta ini, isi gramopon itu, untuk pengakuan semacam ini mengandung untuk memisahkan sebuah kandungan dari konteks yang merubahnya

Lalu, dari Juhl, saya mencoba untuk membuat senarai pelbagai teori tentang penafsiran yang boleh dibagi ke dalam 7 kelompok (hlm. 6-8), yaitu (1) seseorang mengungkapkan bahwa apa yang dimaksudkan oleh sebuah karya literer tergantung pada tujuan pembaca. (2) Sama dengan yang diatas, pernyataan interpretif pada hakikatnya bersifat normatif, artinya bisa dibenarkan sesuai dengan standar khusus atau standar penafsiran. (3) sebuah varian teori merumuskan makna dari sebuah karya sebagai "sekelompok pengalaman yang sama. (4) Paling tidak ada tiga kriteria yang berbeda yang secara bersama-sama menentukan apa yang dimaksudkan oleh sebuah karya literer. Pertama, adalah korespondensi, mensyaratkan bahwa sebuah penafsiran didasarkan pada pengetahuan historis yang berkaitan "pokok-persoalan" di dalam sebuah karya khusus. (5) Berdasarkan pada sebuah teori fenomenologis yang menonjol tentang penafsiran, makna sebuah karya ditentukan sebagian oleh "situasi historis" dari pengkritik. Proses pemahaman sebuah teks melibatkan sebuah "penggabungan horizon" (Horizonverschmelszung) dari pengkritik dan teks. Teori ini didasarkan pada apa yang disebut dengan lingkaran hermeneutik, tesis bahwa pemahaman terhadap keseluruhan (teks) tergantugn pada pemahaman pada bagian-bagiannya dan sebaliknya.(6) Barangkali pandangan yang dipegang secara luas adalah makna sebuah karya tergantung pada (i) aturan-aturan (atau konvensi publik) bahasa di mana teks ditulis (ii) koherensi dan kompleksitas dari sebuah karya literer di dalam penafsiran tertentu. (7) akhirnya, makna sebuah karya ditentukan oleh maksud pengarang.

Tinggal selangkah lagi, saya akan menyelesaikan bab ke dua.

Comments

Popular Posts