Rumah Kaca

Novel bisa merangkai peristiwa menjadi alur. Ia menyingkap 'pemikiran' menjadi percakapan keseharian antara manusia. Metafor itu telah cair berupa bahasa alamiah. Saya kemudian menebak-nebak untuk memasukkan ke dalam sistem: idealisme, rasionalisme, empirisisme, realisme, naturalisme dan mungkin regilius, yang mendaku menyemuai segala paham.

Malam, langit gelap, kilat dan halilintar menerangi dan berteriak, aku menekuri Pram dengan Rumah Kacanya. Meskipun, ia bercerita zaman pra-kemerdekaan, tapi, suasananya hadir kembali sekarang. Orang dengan pelbagai ragamnya, keterasingan dan sikap hipokrit, serta kekuasaan yang membuat banyak orang buta hati.

Lalu, hujan membantu bumi bergeliat karena seharian diterpa panas. Saya pun berharap besok bisa menikmati pagi yang cerah dengan tanah masih basah.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen