Distansiasi dan Apropriasi

Dua istilah ini perlu ditegaskan untuk menjelaskan dialektika 'penjelasan' [explanation] dan pemahaman [understanding]. Keduanya berkaitan dengan kepada siapa teks itu ditujukan.

***

Potensialiasi audiens mempunyai dua cara menghubungkan kembali wacana pembaca dan penulis. Kemungkinan-kemungkinan ini berkaitan dengan kedudukan sejarah di dalam seluruh proses penafsiran.

Menjelaskan sebuah teks pada hakikatnya adalah menganggapnya sebagai ungkapan dari keperluan sosio-kultural tertentu dan sebagai sebuah respons terhadap kemelut tertentu yang dibingkai di dalam ruang dan waktu. Inilah historisisme. Berbeda dengan ini adalah kecenderungan yang berasal dari Frege dan Hussel di dalam Logical Investigation. Keduanya berpendapat bahwa makna (lebih tertarik pada makna dari sebuah proposisi daripada teks) adalah bukan sebuah ide yang dipikirkan seseorang, ia bukan sebuah kandungan mental tetapi sebuah objek ideal yang bisa diidentifikasi dan diidentifikasi kembali, oleh individu yang berbeda di dalam masa yang berbeda, sebagai satu objek dan sama. Idealitas di sini artinya bahwa makna sebuah proposisi adalah bukan realitas fisik atau mental. Di dalam istilah Frege, Sinn bukan Vorstellung, jika Vorstellung (ide, representasi) adalah peristiwa mental yang dihubungkan dengan aktualisasi makna oleh seorang pembicara tertentu di dalam situasi tertentu.

Kutipan dari Paul Ricoeur dalam bukunya Hermeneutics and The Social Sciences.

Dari semua perbedaan, akhirnya setiap individu akan melakukan apropriasi [Aneigung], yaitu menyesuaikan dengan pandangannya sendiri sesuatu yang pada awalnya asing. sesuai dengan kata ini, maka semua hermeneutik adalah berjuang melawan jarak kultural dan sejarah.

Comments

Popular Posts