Dua Tengkorak Kepala



Dulu, saya pernah membaca novel Motinggo Busye. Tapi, sangat susah memunculkan ingatan judul, alur, plot, karakter dalam benak. Namun, gambaran 'cerita' pornografi yang masih melekat. Memang, dulu ia dikenal sebagai penulis novel berbumbu 'seks'.

Kemarin, saya menemukan kumpulan cerpen penulis produktif ini berjudul Dua Tengkorak Kepala (Yogyakarta: Bentang, 1999). Namun dari semua cerpen, saya sangat gandrung dengan 'Mata' yang menceritakan perjalanan tokoh Sapi'ie dalam menemukan hakikat hidup. Di sini, Busye menjelajahi pelbagai pemikiran sastrawan, filsuf dan sufi. Sebuah cerita yang memberikan 'peta' bagaimana manusia memaknai hidupnya berangkat dari rumusan pemikiran, dari Rene Descartes, Andre Gide, Albert Camus, Hafiz, hingga Jalaluddin Rumi.

Di sini saya kutipkan puisi Rumi:
Bila sebutir zarah
dipindah
dari tempatnya
yang semestinya
Maka alam semesta akan runtuh
dari atap, sampai kaki
fondasi

Puisi di atas telah mencegah sang tokoh untuk melakukan bunuh diri (sebuah pilihan yang sama dengan memilih hidup menurut Albert Camus) karena Tuhan telah menetapkan zarah. Manusia yang telah merubahnya.

Lalu, kenapa sang 'penggoda' eksistensi itu adalah perempuan cantik? Bukankah ini bias gender dalam kreativitas kepenulisan?

Lalu, apakah saya bisa 'menyebut' satu persatu itu dalam kehidupan saya?

Comments

Popular Posts