Jilbab

Kadang, saya perlu melakukan sesuatu yang beda, agar hidup sepertinya penuh warna. Pagi ini, pukul 7, saya berangkat ke kampus untuk membaca berita dan artikel di surat kabar. Udara segar dan bumi belum terang karena malam masih menyisakan selimutnya.

Hampir satu jam saya menghabiskan waktu di depan komputer. Tubuh menuntut jatah sarapan. Saya bergegas ke warung India di Sungai Dua depan Masjid kampus. Di sana, sebungkus nasi lemak dan kopi membuat perut nyaman. Tapi, setelah kenyang, saya tidak bisa kembali ke kampus karena hujan deras mengguyur bumi. Biasanya tidak lama, namun hari ini langit sepertinya senang bermain air. Ia menumpahkan tetes tak henti-henti. Di tengah dingin menusuk, terbersit untuk merokok.

Sambil menunggu hujan reda, saya menekuri buku Jilbab : Antara Kesalehan, Kesopanan dan Perlawanan tulisan Fadwa el Guindi (Jakarta: Serambi, 2003). Sebagai sebuah kajian, buku ini mencoba melakukan sintesis antara etnografi, sejarah, teks al-Qur'an, Hadits dan tafsir. Lengkap sudah wajah penelitian ini. Ia tidak hanya melihat fenomena jilbab sebagai 'kewajiban normatif' yang diterakan dalam teks, namun juga relasi kuasanya dengan perkembangan dan pergolakan dalam masyarakat Muslim.

Kadang, di tengah pembacaan, saya mencoba untuk mencari bahan bagaimana 'etika' pakaian ini diletakkan dalam kehidupan masyarakat, apakah cukup pada 'etik' atau 'hukum' yang mengakibatkan sangsi, seperti di Iran.

Saya tentu saja memilih yang pertama, tapi menghargai yang kedua pada batas-batas tertentu. Bagaimanapun jilbab tetap berada dalam konteks masyarakat yang menafsirkan. Lalu, bagaimana dengan Anda?

Comments

Popular Posts