Sunday, June 25, 2006

Enemy at the Gates

Teman Melayu karib saya mengajakke warung pecel lele. Meskipun ia tidak suka pedas, tapi aroma sambal Jawa ini cukup membuat lidahnya ketagihan. Di sana, saya memesan rawon (kuah hitam legam yang dipenuhi daging dan kecambah). Langit tampak hitam, mungkin hujan akan turun.

Jalan kembali pulang mengambil masa agak lama Karena kami menempuh jalan memutar. Di Restu, saya turun ke basement untuk menonton perlawanan Jerman-Swedia. Dominasi Jerman sangat merepotkan barisan belakang negeri Volvo ini. Apalagi salah satu pemainnya dikeluarkan dari lapangan karena mendapatkan akumulasi dua kartu kuning (aneh, namanya Licik, tertulis licic). Sebelum babak pertama usai saya kembali ke kamar.

Malam minggu mungkin perlu lebih banyak 'istirahat' daripada terus menekuri buku. Dengan langkah gontai, saya pergi ke kamar teman, kebetulan di sana ia memutar film Enemy at the gates, sebuah filem cerita perang antara Jerman dan Rusia yang menyisipkan pertaruangan dua jagoan penembak gelap (sniper). Tentu saja, adalah khas film Hollywood memasukkan cerita romantik dalam alur. Jude Law, Ed Harris dan Rachel Weisz bermain baik dan membawakan watak yang meyakinkan untuk memperlihatkan betapa perang telah 'menistakan' manusia pada titik nadir.

Jam 12 lebih, Yusoff mengajak saya menikmati malam. Akhirnya, kami menuju Karaoke Sahabat untuk melepaskan ketegangan dan menaikkan endorfin. Di sana, kami 'request' lagu Aduhai Salehah, Istana Menanti, Beautiful Maria, Tuhan, Selamat Tinggal, Menanti Kejujuran, Widuri, Nafas Cinta, Angin Malam dan Biarlah Bulan Bicara. Lagu-lagu yang saya pesan, semuanya bercerita kenangan, tentu saja, masa yang telah usai. Mungkin nostalgi inilah yang membuat orang melupakan penat hidup hari ini. Sehingga masa lalu perlu dihadirkan untuk mengelabuhi carut-marut kekinian.

Saya memiliah Istana Menanti (oleh Rahim Maroof), Tuhan (Bimbo), Nafas Cinta (Inka Kristi dan Amy Search) dan Menanti Kejujuran (Gong 2000). Empat lagu cukup membuat napas serak karena lagu terakhir memaksa saya berteriak. Sebenarnya lega, tapi tenggorokan kering. Sayang, ketika saya menyanyikan lagu Tuhan, saya merasa suara sember, tak enak di hati dan telinga. Mungkin, Tuhan hadir dalam sebuah ruang yang ironi, campur aduk segala ekspresi, garang, sendu dan cemas. Atau, karena saya belum yakin bahwa sesuai dengan lirik, Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat belum benar-benar merasuk jiwa.

Dengan perasaan ringan, kami meninggalkan tempat Karaoke. Di tengah jalan, anak-anak remaja sedang berjejer di pinggir jalan sambil sekali-kali menggeber mesin motor. Mereka, yang di sini dikenal 'Mat Rempit', sedang menunggu waktu untuk adu kecepatan di jalan raya. Anak muda yang sedang mencari jati diri, tapi sayang mereka harus membuang waktu dan uang untuk aktualisasi yang 'susah' dipahami.

Di kamar teman, sebelum memejamkan mata, saya membaca koran yang memuat wawancara Mufti Perak, Datuk Hairussani, tentang wacana liberalisme dan pluralisme. (Terima kasih Mas Hilal, karena telah memberikan koran ini pada saya).

1 comment:

A. Fawaid Sjadzili said...

terus gimana kisahnya setelah baca korang tentang liberalisme dan pluralisme???? Saya sebenarnya menanti jawaban itu, sebuah jawaban yang tentunya berbeda dari maintream ISTAC ala Adian Husaini. Gimana kabar kawan????