Monday, December 04, 2006

Menghindari Perangkap Neo-Liberalisme

Iseng-iseng saya browsing di google, ternyata tulisan saya di Republika telah dimuat pada tanggal 4 Oktober [ baca: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=267106&kat_id=16] dan di list google juga terdapat tulisan yang mengkritik Rencana saya di Utusan Malaysia oleh seseorang yang mempunyai alamat URL di http://shah2ello.blogspot.com/2006/09/18092006.html] dengan tajuk Response to Writing by Ahmad Sahidah.

Jadi, ketika saya secara sadar 'mengkritik' tulisan orang lain di Republika, maka saya harus siap 'dikritik'. Inilah hakikat dari pembelajaran hidup bersama. Tentu, kita masih ingat ketika di milis ini muncul 'kritik' terhadap sikap politik saya terhadap Bush yang menimbulkan 'tanggapan' kritis dari teman-teman, Aris, Rinza, Fika, dan Wheeza.

Dengan perbedaan sebenarnya kita bisa menyelamati sisi 'kognitif' ilmiah dan psikologi orang lain. Mungkin, pernyataan saya tentang Bush lebih mendekati luapan psikologis dibandignkan 'ilmiah', meskipun dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk memberikan argumentasi yang disertai fakta-fakta empiris.

Syukur, sekarang saya telah dibukakan sedikit tentang suasana psikologis teman-teman yang menyanggah pendapat saya baik secara langsung maupun tidak. Lebih dari itu, pengetahuan ini tidak menyebabkan saya 'ingin' membongkar lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi pada orang lain, melainkan saya lebih melihat ke dalam bahwa sesungguhnya saya bertarung dengan diri sendiri. Akur?


Ahmad Sahidah
Sekarang saya sedang ingin menulis 'Bagaimana Perempuan Menafsirkan al-Qur'an', sebagai persiapan menyambut hari Ibu.

Atau baca:

Menghindari Perangkap Neo-Liberalisme

Ahmad Sahidah Kandidat
Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Tulisan Zaim Saidi bertajuk 'Dialektika Palsu Dua Wajah Islam' (Republika 5 Juli 2006) menghentak kesadaran kita. Pertarungan dua wajah Islam, liberalisme dan radikalisme adalah mainan kapitalisme (Neo-Liberalisme?) untuk merontokkan 'potensi' pemahaman yang akan melawan pemilik modal setelah runtuhnya komunisme-sosialisme.

Penolakan Saidi akan pembagian dua model tersebut bisa dipahami jika merujuk pada otentisitas yang ingin diperkenalkan, yaitu praktik komunitas awal, Al Madinah Al Munawarah. Selain itu, pengertian normatif dari Islam itu sendiri yang berarti damai. Namun, gagasan ini terkesan romantik dan ideal, yang sebenarnya memerlukan 'bentuk' agar tidak dikatakan hanya memanjakan dunia idea yang abstrak. Apalagi, Mary Douglas, antropolog Inggris, menyatakan bahwa cara pandang biner semacam ini memang tugas pengetahuan dan selanjutnya realitas adalah lebih rumit.

Sayangnya, tulisan Saudara Saidi tidak menyisakan ruang kebaikan bagi dua wajah yang dianggap palsu ini. Padahal, keduanya adalah respons terhadap modernitas dengan pendekatan yang berbeda. Apalagi, tuduhan palsu telah mencederai kemungkinan dialog karena telah menutup pintu kebenaran bagi yang lain.

Liberalisme dan radikalisme
Dalam sejarahnya, liberalisme adalah respons terhadap dominasi gereja terhadap kehidupan umatnya, termasuk pendakian kebenaran yang dimiliki sepenuhnya oleh otoritas para rahib. Masa ini ditandai sebagai masa pencerahan (aufklarung). Persoalannya adalah jika kata 'liberal' ini dicangkokkan kepada sebuah tradisi yang sebenarnya mempunyai pengalaman sejarah yang berbeda dengan Kristen tempat di mana pemikiran kritis ini tumbuh. Apalagi, Kata Mark R Woodword, pandangan dunia (weltanschauung) Islam dan Kristen berbeda, yang pertama bercorak sosiologis dan yang terakhir adalah kosmologis.

Radikalisme pada hakikatnya adalah fenomena umum yang bisa diusung oleh kelompok apapun yang mengedepankan cara kekerasan untuk tujuan tertentu. Kalaupun misinya baik, keberadaan kelompok ini dihadapkan dengan kuasa besar, baik pada tingkat lokal maupun internasional. Adalah wajar jika posisi mereka acapkali terjepit karena dikeroyok banyak kekuatan.

Karena keduanya sama-sama 'melek' media, dengan sangat kencang kedua kelompok ini menebarkan idealismenya lewat saluran media cetak dan elektronik, yang menyebabkan keduanya berada pada posisi ekstrem. Dalam sebuah kesempatan, keduanya pernah berdebat. Tapi, siapapun tahu, acapkali drama panggung lebih menyeruak. Satu sama lain mencari titik lemah untuk dinafikkan sebagai wakil yang sah dari Islam, tentu saja dengan ungkapan yang berbeda.

Liberalisme telah memasukkan kosa kata baru yang diaku disemangati Islam, sedangkan radikalisme tetap menggunakan 'kata' lama karena keyakinannya akan keabadian pesan Islam. Dibandingkan dengan NU dan Muhammadiyah, kedua kelompok yang berseteru ini memang lebih lantang menyuarakan kembali pentingnya menafsirkan kembali kitab suci agar tidak dipasung oleh 'kepentingan'.

Dalam pandangan Gadamerian, kegagalan liberalisme adalah penolakanya pada otoritas dan tradisi, yang seharusnya keduanya perlu direhabilitasi. Sebab, dunia tafsir akan mengurai kembali siapa yang berhak mengatakan (otoritas) dan melanjutkan dunia pemikiran selanjutnya (tradisi). Sekarang, tampak bahwa Islam liberal hanya ingin mengubah peta, yaitu dengan menggeser otoritas pada intelektual, bukan ulama, dan menggunakan alat baru --hermeneutik dan turunannya untuk memaknai teks.

Radikalisme yang ditempelkan pada gerakan seperti FPI tentu akan menimbulkan pertanyaan. Sebab, secara kasat mata apa yang dilakukan kelompok ini adalah mengambil alih peran polisi dalam memberantas penyakit masyarakat yang mandul. Lebih arif, fenomena ini dilihat sebagai gerakan simbolik agar ada penguatan hukum (law enforcement) yang dicita-citakan bersama oleh seluruh ragam masyarakat.

Betapa banyak ibu merasa suaminya dirampas oleh minuman keras, sebuah keluarga hancur berantakan karena 'maksiat' merajalela dan perjudian yang membuat kepala rumah tangga bangkrut. Sebenarnya, gerakan FPI dan sejenisnya masih berada di dalam payung besar hukum yang pelaksanaannya amburadul dan perlu ditekan agar berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi, ironisnya, media hanya menyuguhkan serban, pedang, dan teriakan kemarahan. Jika dibaca berbeda, jargon mereka sebenarnya tak lebih dari penguatan terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Gerakan alternatif
Di tengah kontroversi ini, saya berbeda dengan Zaim Saidi yang masih mengandaikan masa lalu, tanpa mencoba menyebut model yang mewujudkan gagasannya sendiri tentang Islam Madani. Bagi saya, kedua kelompok ini adalah varian yang juga pernah hidup masa itu, tetapi bukan berarti tidak ada yang mendekati idealisme yang ditawarkan oleh Nabi. Gema Nusantara Zaim Ukhrowi, Al Ma'un Institute Muslim Abdurrahman dan Pusat Pengabdian Pesantren dan Masyarakat (P3M) Masdar Mas'udi adalah beberapa contoh yang perlu disebut sebagai perwujudan idealisme Piagam Madinah.

Akar pertentangan pendapat dari kedua seteru ini berasal dari kebutuhan dasar manusia yang belum dipenuhi oleh negara dan pemerintah. Masyarakat miskin akan selalu mencari kepastian hidupnya. Setelah mereka merasa di dunia tidak beruntung, maka kelompok radikal yang mampu menghiburnya, karena hanya ada satu kata yaitu berjuang di jalan Tuhan tanpa reserve. Sementara, liberalisme di sini menjadi representasi dari kepentingan Islam elite urban, seperti pembelaan terhadap perkawinan campuran, sekulerisme dan demokrasi. Sebaliknya, ketiga contoh organisasi sosial di atas telah melampaui diskursus yang diperdebatkan kedua kelompok 'ekstrem' ini.

Namun demikian, keduanya pada hakikatnya sama-sama mempunyai sumbangan pada pembangunan masyarakat muslim. Namun demikian, kita tidak bisa terlalu berharap banyak bahwa kedua kelompok ini akan melahirkan sebuah tatanan masyarakat yang siap menyongsong terciptanya masyarakat Madinah.

( )

No comments: