Monday, February 19, 2007

Optimisme di Tengah ketidakpastian

Oleh Ahmad Sahidah

Haruskah kita pesimis menghadapi banyak kejadian yang menyesakkan tidak hanya perasaan terdalam tapi juga akal budi ? Mungkinkah saudara kita masih kuat dihadapkan peristiwa yang acapkali mendekati tubir keputusasaan? Tidakkah semua diri kita terlalu memaksa untuk menerimanya sebagai kenyataan?

Peristiwa yang penuh dengan anomali yang ditunjukkan dan dipraktikkan oleh masyarakat kita sendiri, yang dikatakan di dalam buku dan pidato, mengagungkan nilai-nilai luhur sebagai bangsa yang beradab tidak lebih omong kosong. Bahkan, nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil di buku pelajaran itu telah menguap bersama merebaknya konflik, tindak kejahatan, para pemimpin yang tidak punya hati, dan kejujuran yang tidak menjadi bagian praktik politik bangsa ini. Terlalu banyak daftar paradoks yang nampak di mata kita.

Adalah melelahkan ketika kita mencoba untuk memahami satu demi satu ketidakmasukakalan yang diperlihatkan di televisi, surat kabar, majalah dan selebaran yang mencoba untuk menampilkan wajah kemanusiaan, atas nama apapun, sementara kenyataan selalu bicara lain. Begitu besar simpati yang diberikan bangsa ini pada nasib Palestina dan penolakan kedatangan George W. Bush, sementara di Jakarta sendiri persoalan lingkungan terabaikan, tempat ribuan warga bertempat tinggal. Selokan tergenang yang dipenuhi sampah dan perumahan kumuh yang tak layak huni luput dari perhatian.

Saya tidak bisa membayangkan jika ribuan para demonstran selama ini dikerahkan untuk membersihkan aliran kali Rawa Gatel di Semper Jakarta Barat. Tidak saja, setiap orang akan menutup hidung dan miris melihat ribuan orang tinggal di sepanjang kali ini. Hebatnya lagi, nyamuk tidak mempan lagi dibasmi dengan bahan kimia.

Akar mental bangsa

Tidak dipungkiri bahwa inferioritas bangsa kita di mata asing akibat akumulasi dari pengalaman bawah sadar sebagai bangsa jajahan. Di satu sisi kita menganggap nilai-nilai bangsa dijunjung tinggi, tetapi di sisi lain, justeru kita memanjakan sikap permisif menjadi penyangga bagi hubungan kemanusiaan kita.

Ukuran kemajuan telah menemukan bentuknya pada nilai-nilai artifisial yang menempel pada produk-produk luar, yang bahkan banyak mendapatkan kritik dari negerinya sendiri, karena tidak memperhatikan kesehatan, lingkungan dan masa depan ekologi. Sikap fleksibel bangsa ini terhadap keberlainan (otherness) tidak bisa dijadikan alasan bagi pengambilan nilai-nilai lain begitu saja atas nama modernitas dan kemajuan (progress).

Sikap mimesis bangsa ini bisa dilacak pada pengalaman penjajahan yang sangat lama, sehingga untuk mendongakkan kepala kita tidak punya nyali. Sikap keras dan peryataan kedaulatan atas dirinya tidak lebih untuk konsumsi media dan tetap tak berkutik menghadapi perlakuan meremehkan dari bangsa lain. Sebenarnya, afirmasi terhadap diri bukan berarti penegasian yang lain. Eksistensi yang lain bukan ancaman bagi kita, tidak seperti akar eksistensi Sartre yang mengandaikan bahwa orang lain sebagai neraka, ancaman. Sehingga tindak-tanduknya menjadi kontraproduktif bagi penciptaan komunitas sebagai warga dunia. Perlu juga disadari bahwa kebedaan ini adalah suatu niscaya, yang menurut Gadamer (1975: 405), orang-orang yang dibesarkan di dalam tradisi linguistik dan kultural khusus melihat dunia dengan cara yang berbeda dengan orang yang memiliki tradisi lain.

Namun demikian, Barat tidak tunggal. Emmanuel Levinas, justeru mengkritik Jean Paul Satre, dengan mengatakan bahwa keberadaan kita adalah keselamatan bagi yang lain, bukan predator. Sikap religius ini tidak harus dihadapkan secara diametral dengan pemikiran kebebasan filosofis. Keduanya saling mengukuhkan untuk menyelamatkan kehidupan manusia yang terancam oleh ketamakan dan kerakusannya sendiri.

Sejatinya, pertemuan dengan pemikiran dan budaya lain dengan sendirinya mengkayakan pengalaman batin bangsa ini menghadapi keadaan yang tidak bisa dipastikan arahnya. Hanya dengan sikap terbuka dan penerimaan yang lain sebagai bagian entitas yang juga menganggap persoalan bangsa ini sebagai persoalan bersama, bukan malah menjadikan persoalan keruwetan bangsa ini sebagai amunisi untuk menghantam kelompok lain dalam usaha meraih keuntungan sesaat, baik ekonomi ataupun kekuasaan, maka keadaan tidak akan bertambah buruk.

Optimisme yang realistik

Schopenchaeurian merasa pesimis bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Dalam sejarahnya, dunia selalu mengalami keadaan kaotik yang datang silih berganti. Tentu saja, kita tidak bisa menafikan kenyataan ini. Namun, tidak berarti sikap pesimis menjadi cara pandang untuk memahami persoalan dan upaya untuk menyelesaikannya. Optimisme justeru membuat kita bergerak, dinamis dan bergairah dan keadaan sulit ini akan mengantarkan kita pada sikap realistik.

Kita tidak bisa merubah kondisi bangsa ini semudah membalikkan telapak tangan. Kerusakan yang ditimbulkan selam lima puluh tahun perjalanan bangsa ini hampir tak terperikan. Dengan keragaman etnik, agama, bahasa dan kebudayaan, hampir-hampir komunitas yang dibayangkan (imagined community) tentang Indonesia adalah utopia. Justeru, karena common denominator, Pancasila, telah dijadikan pijakan bagi kehidupan berbangsa maka perbedaan itu dilihat sebagai mozaik dan kekayaan dari bangsa ini, bukan faktor pemicu untuk memisahkan diri sebagai negara-bangsa. Disintegrasi hanya akan menambah keruwetan dan keadaan tak terkendali.

Sebenarnya, jika seluruh komponen bangsa ini berhenti sejenak untuk menghadapi krisis ini sebagai persoalan bersama, maka secara perlahan seluruh penghalang bagi terciptanya keadaan yang lebih baik akan diperoleh, meskipun tidak segera. Kita tidak lagi terperangkap pada kebenciaan yang luar biasa, sebab pada hakikat kesalahan itu bisa diperbaiki dan dimaafkan. Bahkan Hannah Arendt menegaskan bahwa keinginan untuk menuju rekonsiliasi adalah dengan memaafkan, seperti yang dia lakukan terhadap Martin Heidegger sebagai think-tank NAZI, namun akhirnya menyadari kesalahannya. Bagi Arendt, manusia itu bisa berubah jika didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Tampaknya, tidak berlebihan jika kita menatap ke depan dan masa lalu dijadikan pijakan untuk membuat keputusan-keputusan yang sinergis bagi perbaikan suprastruktur dan infrastruktur bangsa ini yang centang perenang. Namun demikian, proses hukum harus dijalankan (sama sekali tidak ada impunity). Sebab, dengan polarisasi orientasi politik yang sangat beragam, tidak ada satupun pemimpin bangsa ini yang akan bisa menjalankan roda pemerintahan dengan totalitas. Perolehan suara terbanyak dalam pemilu adalah salah satu syarat untuk menjalankan amanat rakyat, bukan satu-satunya. Sehingga, yang lain merasa bahwa partisipasi mereka dalam mewujudkan masyarakat yang berkeadilan juga menjadi tanggungjawabnya.

Sikap optimistik tidak hanya mengeliminir akibat-akibat yang tidak perlu dalam menyelesaikan banyaknya masalah sosial, tetapi juga memberi ruang bagi jiwa dan pikiran untuk berdamai dengan kondisi kemanusiaan universal yang penuh dengan ketidakajegan, ketidakpastian dan tidak dapat diprediksikan. Sikap tersebut di atas tidak hanya ditunjukkan sebagian dari komponen bangsa ini, tetapi oleh keseluruhan, sehingga seperti riak besar yang membentuk gelombang.

Ahmad Sahidah Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

No comments: