Monday, April 02, 2007

Pengarang dan Karyanya

Di balik Buku

Oleh Ahmad Sahidah *)

Bagaimana hubungan dua istilah dalam tajuk di atas? Jelas erat. Ada sebuah benang merah yang bisa ditarik antara keduanya. Betapa dekatnya antara sang empu dan buah karyanya, sehingga Pramoedya Ananta Toer menyebut karyanya sebaga anak rohani. Tetapi, apakah sebatas itu? Tentu tidak. Sebuah karya adalah kepanjangan dari isi pikiran dan ideologi sang penulis.

Namun ketika kita mau memahami sebuah karya, menurut Roland Barthes, pengarang tak lagi hadir. Ia mengatakan bahwa menghadirkan pengarang untuk memahami teks sama saja dengan membatasi teks itu sendiri. Lebih jauh dia menegaskan bahwa seorang pembaca harus memisahkan karya dari pengarangnya untuk membebaskan karya dari tirani penafsiran.

Saya sendiri berpendirian tak seekstrim Barthes. Dalam pengalaman selama ini, saya melihat keterkaitan erat penulis dan karyanya. Kegagalan memahami sejarah pengarang akan membuka kemungkinkan kealpaan dalam memahami isi pemikirannya. Misalnya, Kuswaidi Syafi’ie dengan karya Pohon Sidrahnya adalah seperti dua sisi mata uang. Pandangan politik, konteks sejarah, agama, etnik, psikologi dan sifat keperibadian lain berlompatan di dalam puisi-puisi yang diluahkan dalam buku ini.

Hampir bisa dipastikan bahwa larik puisi yang ditulis adalah menggambarkan sejarah hidup, keyakinan agama, cita rasa Madura, sosok yang temperamental dan agak melankolik. Semakin jauh saya mengenal kepribadiannya, semakin dekat saya merasakan kegundahannya dalam karyanya. Tapi, bagi mereka yang belum mengenal dekat, tampak ada jarak yang menganga ‘lebar’ antara spontanitas yang ‘arogan’ dan diksi puisinya yang cenderung sufistik dan rendah hati? Bagi saya, ia adalah wajah tegar yang banyak memberi inspirasi.

Pengalaman lain yang masih menyisakan sejuta tanya adalah ketika saya menemui Azyumardi Azra untuk meminta tanda tangan untuk bukunya The Origins Of Islamic Reformism In Southeast Asia: Networks Of Malay-Indonesian & Middle Eastern 'Ulama' In The Seventeenth And Eighteenth Centuries yang merupakan titipan profesor saya. Tapi apa lacur, meskipun saya menunggu di pintu masuk kantor beliau sedari pagi, saya harus menggigit jari, karena ketika saya bertemu beliau dan mencegah di pintu masuk seraya memulai dengan salam dan bertanya, “Pak, boleh minta tanda tangan untuk buku Bapak?, dengan wajah masam, Pak Azra menjawab, “Apa sech!” dan berlalu begitu saja. Seketika itu, pesona pemikiran Pak Azra yang bertebaran di sejumlah karyanya tentang Islam yang ramah, damai dan menjunjung kemanusiaan menguap karena kekasarannya.

Tapi, saya sendiri masih menyisakan kesabaran dengan mengandaikan bahwa sosok yang saya temui adalah diri-lain dari seorang yang bernama Azra. Bukankah pada setiap manusia terdapat alter-ego? Atau, dalam bahasa psikoanalisis, tidakkah seorang individu boleh jadi mempunyai banyak wajah? Untuk itu, saya tetap mengejar beliau ke ruang kantornya, meskipun saya tak bertemu langsung tetapi menitipkan buku itu pada sekretarisnya untuk memintakan tanda tangan pada penulis produktif ini. Saya hanya memerlukan orang ini sebagai penulis buku, lain tidak.

Berbeda dengan Chandra Muzaffar, pemikir Muslim terkemuka negeri Jiran, ketika saya meminta tanda tangan untuk buku beliau Global Ethic or Global Hegemony, dengan muka berseri beliau menanyakan nama saya dan menuliskan for Ahmad with my best wishes. Tak pelak, saya menemukan garis yang jelas antara apa yang diucapkan dan dilakukan. Kesinambungan ini menambah simpati saya pada tokoh multidimensi ini.

Oh ya, pengalaman minta tanda tangan buku yang kuat menancap di benak adalah ketika saya menyodorkan sebuah buku Super Nova untuk dibubuhkan tanda tangan oleh Dewi dalam sebuah acara peluncuran novel tersebut di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta. Tidak saja personel RSD ini menanyakan dengan lembut nama yang harus ditulis pada halaman judul buku, tetapi beliau juga menebarkan sebaris senyum dan menguapkan aroma parfum yang membuat semerbak ruangan. Seakan-akan upacara tanda tangan ini melengkapi apa yang disampaikan sebelumnya tentang isi buku yang mencerminkan sosok penulis yang tahu bagaimana memaknai kemanusiaan.

Pemahaman yang retak

Terus terang, empat peristiwa di atas mengantarkan saya pada pemahaman yang retak bahwa apa yang ditulis seorang pengarang kemungkinan berasal dari sebuah keyakinan, namun kemudian mengalamai keterpecahan. Pertama, gagasan itu mewujudkan dalam tindakan dan kedua, ia hanya pengejawantahan dari sisi kognitif saja, belum menjadi sebuah keyakinan yang mampu menggerakan si pengarang.

Ada banyak kemungkinan mengapa gagasan para penulis tidak serta merta mewarnai tindak tanduk mereka. Boleh jadi, sebuah ide senantiasa selalu berada dalam ruang dan waktu yang berjarak dengan kenyataan. Tak jarang ia bersemai dalam ruang sepi. Bahkan, ada seorang pengarang yang mengabdikan sepenuhnya untuk sebuah sistem pengetahuan yang rumit tapi dalam kesehariannya ia menjalani hidup sendirian. Ya, Immanuel Kant yang tak pernah beranjak dari rumah dan taman kota, namun menulis dengan penuh meyakinkan tentang dunia di luar pengalamannya secara langsung. Bahkan, konon beliau mampu menggambarkan deru ombak dengan sangat menyentuh, meskipun sebelumnya tak pernah melihat laut.

Cerita pengarang lain yang menunjukkan garis hubungan dengan pemikirannya adalah Nietzsche. Beliau memberi perhatian yang utuh terhadap nasib manusia, sehingga dengan tanpa rasa takut mengumumkan Tuhan telah mati. Cinta kepada kemanusiaan ini bahkan ditunjukkan dalam penyebab tragis kegilaannya karena merasa terharu ketika harus melihat seekor binatang dipecut oleh sang sais kereta tanpa ampun. Jangankan kekejaman pada manusia, bahkan kekerasan pada binatang telah menggerakkan hatinya untuk membelanya sehingga ia hilang kesadaran.

Sejatinya, memang mesti ada kesinambungan antara bahasa tulis dan tindakan. Sebab, tulisan itu adalah pemantapan dari bahasa lisan. Jika bicara menyalahi tindakan biasanya si pelaku dikatakan seorang hipokrit. Jadi, seyogyanya seorang penulis berhati-hati dengan apa yang telah ditorehkan dalam kertas, sebab ia menuntut untuk diwujudkan menjadi sebuah perbuatan nyata. Meminjam bahasa Renda, perjuangan itu adalah melaksanakan kata-kata. []

*) Ahmad Sahidah, Mahasiswa PhD Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

No comments: