Malaysia, Islam dan Sejarah Sulabtern

Rencana untuk menulis sebuah esai tentang kesarjanaan Muslim telah mendorong saya untuk menerokai lebih jauh tentang pemikiran Islam di negeri Jiran ini. Bagaimanapun harus diakui tokoh sentral Syed Naquib al-Attas menempatkan Malaysia sebagai pusat pemikiran keislaman dunia. Karya-karya beliau telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia. Bahkan, dalam perjumpaan beliau, penulis Prolegomena ini menyatakan bahwa bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah jarangnya pemikir Muslim kita diapresiasi di luar negara, apalagi Asia Tengah.

Namun, apakah para sarjananya sekarang hanya menyodorkan Naquib yang telah beranjak tua? Buku terakhir beliau bertajuk Pandangan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Ilmu (Malaysia: Penerbit USM, 2007) sebenarnya merupakan pengulangan pemikiran beliau yang berserak di dalam berbagai buku sebelumnya. Boleh dikatakan jika kita ingin memahami diskursus kesarjanaan Muslim Malaysia cukup merujuk kepada karya setebal 76 halaman ini. Lalu, jika kita ingin membaca lebih jauh dua karya fenomenal tentang pandangan dunia Islam bisa ditelusuri di dalam dua karyanya Prolegomena dan Islam and Secularism. Tentu saja, karya Wan Mohd Nor Wan Daud The Educational Philosophy and Practice of Syed Naquib al-Attas: An Exposition of Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998) merupakan sebuah penjelasan yang lengkap tentang latar belakang pemikiran pendiri ISTAC ini (International Institute of Islamic Thought and Civilization).

Di luar pemikiran Islam arus utama di atas, ada sebagian pemikir Muslim yang berada di seberang Naquib yang menolak Barat. Kehadiran mereka acapkali dianggap duri dalam daging di Malaysia. Tak jarang, mereka juga disebut golongan Islam liberal yang menggoyahkan sendi-sendi keislaman Melayu karena menggugat kembali prinsip-prinsip yang sudah mapan. Menurut sayap progresif ini, Islam tidak hanya dibekap di dalam perdebatan hitam putih, melainkan perlu dibawa ke dalam diskursus yang lebih luas. Pandangan semacam ini bisa dilihat dalam The Other Malaysia: Writing on Malaysia's Subaltern Historynya Farish A Noor (Kuala Lumpur: Silverfishbooks, 2002).

Di dalam karya Farish, kita akan menemukan ragam tema yang berkaitan dengan kehidupan Malaysia secara menyeluruh dan sudut pandang yang lebih berani berhadapan dengan keyakinan sarjana Muslim arus utama. Ia memang tidak membicarakan secara khusus tema-tema Islam seperti dilakukan oleh Naquib, tetapi buku tersebut ingin melihat Malaysia dari beragam perspektif, sejarah masa lalau, tokoh subaltern, partai oposisi, dan etika publik.

Dengan menggeser perdebatan wacana Islam ke arena lebih luas, kita akan menemukan kekayaan pandangan para sarjananya tentang dinamika intelektual yang mengharu biru di tengah khalayak. Memang, tak terelakkan pandangan Farish A Noor banyak mendapatkan perlawanan dari segala penjuru karena dianggap sebagai ide yang menyesatkan. Tampak, dua kubu ini terus mewarnai hiruk pikuk perkelahian pemaknaan hingga kini.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen