Hujan dan Keriangan

Hujan deras tiba-tiba mengguyur tanah. Saya menengok di balik tirai, memastikan kehadirannya. Wow, benar-benar deras. Agak jarang di pulau kecil ini, air tumpah dari langit sebanyak ini. Saya bilang kepada kawan Arab, ini berkah. Lalu, saya bergegas mengirim sms pada teman, Muzammil, membatalkan makan siang bersama di luar kampus. Saya kemudian mengambil payung yang diselipkan di celah antara tembok dan lemari besi di ruangan komputer fakultas (di sana disebut Pusat Pengajian atau School).

Dengan melipat celana ke atas lutut, saya berjalan keluar dan merasakan dingin karena hujan begitu deras. Sengaja saya memilih jalan di atas lorong kampus berkonblok agar tidak kecipratan air. Namun, ketika mau menyeberang ke warung makan India Muslim itu, Restoran Zubaidah, saya melihat air mengalir deras di aspal, pertanda selokan tak mampu menahan luapan air. Ups, tiga perempuan itu berjalan biasa menghampiri mobil, padahal pasti bajunya akan basah kuyup. Oh ya, mengapa mereka tak berlari? Adakah karena adab kesopanan mencegahnya?

Sesampai di depan gedung Dewan Budaya, saya melihat banyak mahasiswa sedang menyiapkan panggung untuk acara workshop arsitektur. Tampaknya mereka bukan mahasiswa USM. Mungkin dari universitas swasta. Saya pun beranjak dari tempat ini dan segera ke warung makan. Di sana, sang pelayan menawari nasi briyani dan mengatakan murah serta dapat daging kambing gratis meskipun secuil. Ya, jawab saya. Tapi saya tetap mengambil ayam goreng. RM 4.6 (Rp 13.064) adalah angka yang cukup besar untuk makan siang.

Dengan mengambil meja di tengah, saya menikmati makan siang dengan lahap. Lagu India itu ternyata ingatkan saya lagu dangdut, tapi lupa judul dan penyanyinya. Nadanya sama. Persis. Aha, lagu lama. Saya mencoba untuk menghadirkan dua kenikmatan, lidah dan telinga. Muaranya, saya kira, pada hati. Karena di sini bersemayam sumber kenikmatan. Kadang, saya memejamkan mata agar nikmat di lidah dan gendang telinga betul-betul menyatu. Suara hujan pun seakan-akan beradu untuk menghibur saya. Tak lama, kemudian saya mencuci tangan dan mengambil makanan ringan, kacang gajus (jambu mente). Ehm, gurih. Lalu, membuka buku kecil, saya memeriksa apa yang harus dilakukan hari ini setelah makan. Ya, saya sedang mengejar matahari.

Hari ini saya telah mencecap rasa hujan di tengah hari. Betul-betul menyenangkan. Serta merta, saya akan berhujan-hujanan jika langit menumpahkan air sebegitu banyak, seperti masa kecil dulu. Berlari-lari menentang tetesan, bersendau gurau dan kadang bermain bola adalah sebagian pengalaman kecil saya tentang hujan.

Comments

Popular Posts