Anwar Ibrahim di Ujung Tanduk

[Jawa Pos, Rabu, 09 Juli 2008 ]

Oleh Ahmad Sahidah*

Hingga memasuki minggu kedua, kasus ''sodomi'' Anwar Ibrahim masih menghiasi media utama Malaysia. Malah, sekarang drama tersebut memasuki babak baru, yaitu perseteruan terbuka antara tokoh reformasi itu dan calon perdana menteri Mohammad Najib Tun Razak. Gonjang-ganjing itu seakan-akan menegaskan apa yang jauh sebelumnya diramalkan kolumnis terkemuka Hishamuddin Rais bahwa pertarungan akhir dari carut-marut politik akhir-akhir ini adalah antara Anwar dan Najib (Malaysia Kini, 18 Mei 2008).

Keduanya saling menyerang dengan amunisi masing-masing. Najib tentu saja lebih diuntungkan karena didukung media arus utama, sementara Anwar hanya berbekal kemampuan orasinya dan media alternatif yang mempunyai daya jangkau terbatas. Tentu saja, media blog tak bisa sepenuhnya dipercaya. Meskipun kadang memberikan sensasi tersendiri dalam memengaruhi opini publik. Pengakuan Mohd Saiful Bukhari Azlan, mantan pembantu Anwar, yang disodomi mantan bosnya mengentak publik Malaysia.

Akankah kasus ''sodomi'' yang pernah menjungkalkan Anwar akan terulang? Dulu, mantan aktivis mahasiswa itu harus meringkuk di penjara karena kasus yang sama dan telah menghentikan langkahnya untuk menjadi orang nomor satu di negeri jiran. Namun, keadaan berubah. Setelah Mahathir mundur, penggantinya, Pak Lah - panggilan Abdullah Badawi- ''mengeluarkan'' Anwar dari bui dan bahkan secara tidak langsung menunjukkan simpatinya dengan memberikan paspor untuk bisa berobat ke luar negeri melalui menantunya, Khairi Jamaluddin.

Hegemoni Media Arus Utama

Akta Mesin Cetak dan Penerbitan (1984) adalah instrumen undang-undang yang digunakan pemerintah untuk mengekang kebebasan media. Setelah pemilihan umum ke-12, kekangan mulai dilonggarkan. Keputusan Syed Hamid Albar untuk memberikan izin penerbitan koran Suara Keadilan adalah angin segar bagi perkembangan demokrasi pers. Demikian pula, pemberian perpanjangan izin kepada koran berbahasa India, Makkal Osai, menambah keyakinan publik terhadap iklim kebebasan berekspresi.

Saya melihat tokoh keturunan Arab itu mempunyai pandangan terbuka dan cakrawala yang luas. Sebelumnya, ketika memegang posisi menteri luar negeri, dia mengundang Karen Amstrong, penulis The History of God, dalam konferensi internasional bertajuk Islam and The West: Bridging the Gap (15-16 Juni 2007) bahwa saya turut menghadiri acara tersebut. Sementara itu, pada masa yang sama, Kementerian Dalam Negeri melarang buku mantan biarawati tersebut beredar di Malaysia lantaran pandangannya dianggap menyimpang (liberal).

Namun, kelonggaran yang ditunjukkan itu belum berpengaruh kepada pemberitaan yang seimbang pada media utama, baik koran, televisi, maupun radio. Semua alat itu masih berada di bawah kendali pemerintah, sementara pihak oposisi mengais dari media yang mereka produksi, tetapi minim sirkulasi dan miskin dana karena iklan terbatas. Namun, perimbangan kekuasaan memaksa media utama harus berbagi dengan oposisi karena mereka memerintah di beberapa negara bagian yang makmur, seperti Selangor dan Pulau Pinang.

Berkaitan dengan kasus Anwar, saya menemukan kecenderungan media arus utama untuk menggiring pendapat masyarakat agar tidak memercayai mantan menteri keuangan itu. Pemilihan judul dan kandungan berita dibuat sehalus mungkin untuk menimbulkan opini bahwa tokoh dialog peradaban itu tak layak berkuasa.

Namun, media oposisi berada dalam keadaan sebaliknya. Hanya di media alternatif, seperti Malaysia Kini dan The Sun, kita bisa menemukan berita yang mencoba untuk menghadirkan pandangan kedua pihak.

Peluang Anwar Ibrahim

Dalam situs pribadi yang beralamat di www.anwaribrahimblog.com, tokoh terkemuka Asia itu mem-posting tulisan Hamid Basyaib dari Freedom Institute Indonesia yang memujinya selangit, meskipun didahului dengan uraian jatuh bangun Anwar di dalam meniti karir sebagai politisi beken. Tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal betapa dia telah berjuang membela rakyat sejak menjadi mahasiswa.

Aktivisme itulah yang menyebabkan dia mendekam di hotel prodeo karena membela petani yang kelaparan di kampung Baling pada 1970-an melalui demonstrasi dan mogok makan.

Nama Anwar makin berkibar karena media asing, seperti AFP, Reuters, dan Al Jazirah, memberikan tempat yang istimewa. Tambahan lagi, majalah Newsweek (Maret, 2008) menjadikan dia sebagai gambar sampul dan berita utama. Jelas-jelas posisi itu menguntungkan Anwar karena terekspos untuk kalangan kelas menengah. Sementara itu, untuk menjangkau kelas bawah, Anwar memanfaatkan kepiawaiannya berpidato yang sangat memukau. Retorikanya disangga oleh latar belakang pendidikannya dalam sastra Melayu dan pengalaman yang luas sebagai mantan pejabat teras.

Bukan itu saja, dukungan banyak pemimpin dunia telah menempatkan Anwar pada posisi menguntungkan. Kedekatannya dengan Perdana Menteri Turki Tayib Erdogan menyebabkan mantan wakil PM itu mudah bersembunyi di Kedutaan Besar Turki di Kuala Lumpur. Bahkan, Tom Casey, juru bicara pemerintah Amerika, mendesak pemerintah Malaysia untuk tidak memidanakan Anwar karena dugaan kuat bahwa tuduhan sodomi adalah konspirasi politik. Sayang, hingga hari ini kita belum mendengar pembelaan sejawatnya dari Indonesia.

Bagaimanapun, Anwar telah berhasil memaksa pers dalam negeri yang tidak pernah memberikan tempat dan meyakinkan rakyat Malaysia bahwa dirinya sebenarnya layak menjadi sumber berita dan ujung-ujungnya sebagai pemimpin fajar baru karena diakui dunia.

Bagaimanapun, pers luar negeri telah menjadikan dia sebagai berita utama (making news), sebagai bentuk pengakuan dengan menyebutnya dalam judul besar Anwar Ibrahim was Asia's Most Celebrated Young Leader before He Was Sent to Jail. Now, He Has a Second Chance (Newsweek, 24/5/08)

*Ahmad Sahidah, kandidat doktor Departemen Filsafat dan Peradaban, Universitas Sains, Malaysia

Comments

Popular Posts