Robohnya Surau Kami

Karya A. A. Navis ini saya telah kenal ketika masih bersekolah di tingkat menengah. Tentu dalam pelajaran bahasa Indonesia. Anehnya, saya baru membacanya secara utuh, tidak hanya tahu judulnya, setelah berada di Malaysia. Kumpulan karya penyair ranah Minang ini saya pinjam dari perpustakaan kampus.

Lalu, apa makna simbolik yang bisa kita petik dari karya ini? Ya, rumah ibadah kita tak hanya dibangun lalu ditinggalkan. Meski ia tegas, bisa jadi, eksistensinya telah runtuh karena dikosongkan oleh penganutnya. Sebagaimana surau di flat tempat kami tinggal. Semalam, hanya 6 orang Pakistan yang menunaikan jamaah Maghrib. Lalu, ke mana yang lain? Mungkin, mereka kecapaian setelah pulang kerja.

Untuk kesekian kalinya, saya merasa terenyuh dengan keadaan surau ini. Karpetnya berbau apak dan tembok di atas sana ditumbuhi 'kotoran'. Demikian pula, pintu pagar juga tak berfungsi, sehingga kadang ada kotoran binatang di depan surau. Memang, saya kadang membersihkan sampah, seperti bungkus makanan, kertas tisu dan dedaunan yang berserak di halaman surau. Lebih dari itu, kadang saya juga membersihkan sisa-sisa sayap laron yang melekat di karpet dengan sapu kecil.

Oh ya, di surau ini, saya menemukan kitab Yasin dan terjemahannya yang diterbitkan Swarnadwipa Bandung, 1969. Selain itu, desain buku ini dilakukan seorang ahli kaligrafi ternama Indonesia A.D. Pirous. Tidak itu saja, di sini saya juga menemukan al-Qur'an terjehaman Departemen Agama Indonesia yang diterbitkan ulang oleh C.V. Toha Putera Semarang.

Selepas jamaah, saya masih menunaikan shalat sunnah. Sang imam tak membaca doa keras dan diaminkan oleh makmum. Berbeda dengan di kampung, selalu saja, sang iman melakukan ini untuk memimpin doa. Lalu, saya bergegas pulang. Di depan pintu lift, saya berjumpa dengan sang iman dan berkenalan. Namanya Sayyidul Islam, asal Pakistan.

Comments

Popular Posts