Lagi-lagi tentang Hujan

Genangan air di aspal parkir flat bergerak diterpa butiran rintik hujan. Pertanda hujan masih turun. Ya, sebelumnya, saya telah melihat mendung hitam berarak di atas bukit ketika baru keluar dari Fakultas Pendidikan bersama Zailani. Kata kawan karib saya, sebentar lagi hujan. Ya, ternyata jam 12-an hujan benar-benar tumpah dari langit.

Saya bersyukur karena tanah yang akan dipijak nanti telah basah. Tiba-tiba saya bergidik hujan kali ini disertai angin kencang. Bunyi desirnya mendebarkan. Samar-samar terdengar benda jatuh berdegum keras. Di tengah hujan deras itu, saya menengok sekilas dari jendela kampus butiran hujan yang jatuh dalam kemiringan karena diterpa angin keras. Stenly, kawan karib saya, berkali-kali melihat hujan melalui jendela dengan menguak gorden.

Hingga jam 1, hujan masih mengguyur bumi. Tapi, saya tak pernah malas menghadapi cuaca seperti ini. Justeru, dengan payung, saya betul-betul menikmati langkah kaki menuju ke mana pun. Kebetulan, saya ingin mengisi botol air minum di kantor pasca sarjana. Selepas penuh, saya pun beranjak melewati lorong menuju perpustakaan. Segera saya meneliti siapa tahu ada buku baru di rak pameran. Tak ada buku yang membuat tangan ini tertarik mengambilnya.

Kemudian, saya beralih ke rak bagian buku keislaman. Di sini, saya mengambil karya Ibn Taimiyyah, Politik Syar'ie, yang diterjemahkan oleh Hamid Fahmi dan Asep Sobari. Dengan membacanya, saya berharap lebih mengenal secara dekat apa yang dipikirkan tokoh 'konservatif' ini. Untuk bandingan, saya juga meminjam karangan Dale F Eickelman, Ekspresi Politik Muslim. Tambahan lagi, buku Shireen T Hunter, Politik Kebangkitan Islam: Keragaman dan Kesatuan adalah amunisi lain untuk melengkapi bacaan tentang Islam politik.

Guratan di atas dilakukan sambil mengasup nasi goreng yang dibuat oleh isteri. Ya, nasi panas itu menambah hangat suasana di sore yang dingin. Ditingkahi lagu lembut dari radio Hot FM, kami menikmati senja kala itu dengan riang.

Comments

Popular Posts