Membaca kembali A A Navis

Kemarin, saya mengambil tiga buku, dua buah berkaitan dengan A A Navis dan satu novel berjudul Maria Mariam oleh Farahdiba untuk bacaan isteri. Buku penulis Robohnya Surau Kami ini saya ambil untuk membaca kembali judul cerpen yang dijadikan judul antologi ini, yang mengungkap ketegangan antara kesalehan sosial dan individual.

Cerita pendek yang dimuat pertama kali di dalam majalah Kisah ini dulu sempat mengundang kontroversi dan juga pujian. Bahkan, ia telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa Asing, Inggeris, Jepang, Perancis dan Jerman. Sesuatu yang jarang terjadi dalam dunia sastera Indonesia. Mungkin hanya tetralogi Pramodya yang mengatasinya. Sebagai tambahan, saya juga menyeimbangi dengan cara pandang kritik sastra yang telah ditunaikan dengan baik oleh Ivan Adilla dalam A A Navis: Karya dan Dunianya (Grasindo, 2003).

Membaca cerita pendek buah karya sasterawan Minang ini membuka jendela rumah agar bisa melihat bagaimana orang lain melihat hidupnya. Lebih dari itu, kadang saya cemburu bahwa daerah yang dikenal sebagai kawasan lahirnya gerakan Islam modern telah mengharubiru dunia sastera Indonesia, dengan hanya bermodal peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Coba lihat, Salah Asuhan Abdoel Muis atau Tenggelamnya Kapal Van Derwijck Hamka. Keduanya merupakan pembacaan penghuni rumah Gadang terhadap kegalauan masyarakat terhadap serbuan modernitas. Sesuatu yang mungkin juga terjadi di Madura, tetapi tak sempat direkam melalui tulisan oleh warganya.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen