Monday, July 14, 2008

Meraup Semangat dari Liyan

Sejak semalam, saya telah merencanakan untuk hadir pada acara kuliah umum (syarahan umum) Dato' Sri Idris Jala, Direktur Maskapai Malaysian Airlines (MAS). Saya tak banyak tahu tentang mantan mahasiswa manajemen USM ini, selain hanya mengenalnya sebagai manajer yang berhasil membantu MAS dari kebangkrutan karena persoalan keuangan.

Ternyata, kabar itu bukan mengada-ngada. Tadi pagi, saya melihat sosoknya secara lebih dekat karena dia dan tamu yang lain berjalan melewati kursi yang saya duduki di bagian tengan dekat panggung. Acara yang dikemas dalam tajuk Business Turnaround: The MAS Experience berjalan lancar, meskipun tak banyak peserta yang meramaikan untuk mendengar pengalaman keberhasilan anak Sarawak ini memberikan keuntungan tertinggi dalam sejarahnya pada perusahaan pemerintah Malaysia yang berada dalam manajemen GLC atau Government Link Corporate.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh organisasi alumni USM sebagai bentuk kepedulian mereka mewujudkan hubungan alumni dan almamater agar melahirkan hubungan saling menguntungkan. Sebelum memasuki ruangan, saya mengisi daftar hadir dan menerima nota bertuliskan Pejabat Perhubungan Alumni (Kantor Alumni) dan sekilas gambaran di halaman depan tentang organisasi alumni yang beralamat di http://www.usm.my/alumni.

Seperti diceritakan, anak kelahiran Miri ini diminta oleh pemerintahan untuk membenahi MAS dan dia keluar dari tempatnya bekerja, Shell, perusahaan minyak milik Belanda Inggeris. Paling tidak ada enam kunci sukses, yaitu a. The Game of The Impossible b. Anchoring The P and L c. The Discipline of action d. Situational Leadership e. Winning Coaliton and finally f. Divine Intervention. Dengan media presentasi power point, dia menguraikan dengan bahasa Inggeris yang jelas dan lugas tentang semua rahasia ini dan acapkali diselingi dengan kutipan bernuansa falsafah, seperti perkataan Ray Croc The Quality of an individual is reflected in the standards they set for themselves. Seorang pribadi dinilai dari apa yang dilakukan dalam keseharian.

Dari uraiannya, saya bisa menyimpulkan bahwa tokoh manajer ini banyak membaca, karena ketika berbicara tentang Campur Tangan Tuhan, dia membicarakan tentang nilai dan tindakan. Dengan mengutip teori Johan Galtung, Theory of Social Cosmology, manusia akan mendapatkan sesuatu yang tak bisa dikontrol (60% , dibandingkan 40% yang bisa dikawal) apabila mereka menjadi seorang manusia yang baik. Mungkin, saya perlu membaca lebih jauh tentang teori ini untuk mengenal lebih jauh apa sebenarnya relevansi pemikir futurologi ini tentang manusia.

No comments: