Membaca di hari Minggu

Minggu seharusnya beristirahat, tetapi apakah memang demikian jika sebelumnya saya menjalani hari dengan riang, tidak ada yang harus dilakukan dengan berat. Semuanya berjalan seperti biasa, membaca, menulis, mendengar dan melihat. Memang, kadang menyebalkan melakukan hal rutin, karena sesungguhnya saya telah mempunyai keyakinan bahwa bacaan saya memerlukan ruang untuk menjadi tindakan.

Pekerjaan kecil yang saya lakukan di kampus adalah wujud ide besar yang sempat hinggap di benak. Termasuk, ketika saya menolak plastik dari toko untuk bungkus barang yang tidak seberapa nilainya, demikian pula tidak membuang sampai sembarangan adalah cara saya belajar menjadi warga bumi yang ramah. Malah, saya juga berusaha sekuat tenaga menyapa dengan warga flat yang berada di samping dan depan rumah kami. Meskipun, kadang agak susah menciptakan keintiman karena perbedaan yang tajam.

Kunjungan hari Minggu ke perpustakaan mungkin adalah salah satu cara memecahkan jam waktu yang dibuat oleh masyarakat bahwa ujung Minggu adalah tak perlu melakukan kegiatan. Saya malah pergi ke rumah buku itu untuk meminjam buku yang dirasa perlu untuk mengisi hari dengan pelbagai kebutuhannya, seperti Novel Libby oleh Langit Kresna Hariadi (untuk bacaan isteri di sela menemani bayi), Said Hawwa, Pendidikan Spiritual dan Moh Azizuddin, Hak Asasi dan Hak Bersuara: Menurut Pandangan Islam dan Barat.

Hanya rutinitas ke surau pada waktu Magrib yang senantiasa saya rawat agar bisa menjaga silaturami dengan warga flat dan selalu mencoba untuk mengenal satu persatu mereka yang kerapkali mengunjungi surau, seperti beberapa hari yang lalu saya telah mengenal Mohammad Masood dan Tariq Hassan, dua pekerja asal Pakistan. Hampir semua jamaah telah saya kenalsehingga saya merasa menemukan rumah di surau yang tak seberapa besar dan tak terawat itu.

Comments

Popular Posts