Buka Bersama

Beberapa hari sebelumnya, saya ditelepon oleh pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia Pulau Pinang untuk memberikan ceramah pada Peringatan Nuzulul Qur’an. Saya pun mengiyakan. Semalam, saya telah menunaikan permintaan itu. Dengan didahului pembacaan kitab suci al-Qur’an oleh Mohammad Nuh, mahasiswa PhD bidang Kajian Islam Universitas Sains Malaysia, dan sambutan oleh konsul, Bapak Munir Ari Sunanda, akhirnya diikuti dengan penyampaian siraman rohani selama tidak lebih kurang 15 menit, dengan tajuk “Dengan Nuzulul Qur’an Kita menjadi Muslim Sejati”.

Sebelumnya, kami, masyarakat Indonesia yang tinggal di Pulau Pinang, berbuka bersama di ruang terbuka kantor konsulat dengan kolak, kurma, kue dan es buah. Di tengah menikmati minum, mereka tampak berbinar sambil berbincang. Lalu, kami bersama-sama menunaikan shalat berjamaah Maghrib di aula. Setelah itu, kami makan ragam menu khas Indonesia yang mengundang selera, seperti lalapan, krupuk, dan rendang. Oh ya, kebetulan ada teman Melayu asal Kelantan yang juga merayakan kebersamaan. Katanya, dia ingin merasakan suasana Indonesia dalam menyambut Ramadhan. Anehnya, kami malah bertukar cerita tentang dunia politik negeri jiran yang lagi hangat mengenai isu peralihan kekuasaan.

Setelah makan besar, kami melaksanakan shalat jamaah Isya dan Tarawih bersama. Mohammad Nuhung menjadi imam shalat malam ini. Sementara Tarawih diimami oleh Ahmad Sahidah. Sesudah shalat witir, kami bersama-sama membacakan doa puasa, kemudian sambil membaca shalawat satu sama lain saling bersalaman. Suasana hangat terpancar dalam suasana seperti ini. Dalam perjalanan pulang, saya meminta kawan baik, Ahmad Farisi untuk memindah gelombang radio ke frekuensi 97.10 fm, radio Sinar, yang selalu menyiarkan lagu-lagu retro. Sepanjang jalan, saya, Farisi, Baim, Aini dan Aris saling bersahutan di tengah suara lagu dan bunyi mesin yang menderu.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen