Jakarta adalah Wajah Muram Kita

[sumber gambar: jakartaoldpicture.blogspot.com]

Bulan Juni yang lalu, saya mengunjungi Jakarta untuk mengurus single entry visa di Kedutaan Besar Malaysia dan sekaligus melawat Perpustakaan Nasional Jakarta di Jalan Salemba untuk mendapatkan sebuah naskah kuno yang telah berusia 8 abad, Bahr al-Lahut. Karya abad ke-12 ini telah menjadi penanda awal bagi kesarjanaan Nusantara dalam bahasa Indonesia.

Untuk kedua kalinya, saya mengurus visa di perwakilan negara tetangga ini dan saya mendapatkan pelayanan yang efisien dan profesional. Tidak ada kesulitan. Demikian pula, ketika saya untuk pertama kalinya mengunjungi perpustakaan di atas, kerani menyambut dengan ramah dan betul-betul memberikan pelayanan yang baik. Jelas, ini melegakan karena selama ini kesan sambil lalu pegawai pemerintah dalam melaksanakan tugas pelayanan masih sering ditemukan. Pendek kata, kita juga mempunyai abdi masyarakat yang baik.

Sebenarnya, saya mengagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat lain, tetapi mengurungkan niat karena betapa tidak nyaman transportasi umum di ibu kota ini. Busway yang menjadi andalan saya untuk menjangkau pelosok Jakarta sudah tak nyaman. Saya harus menunggu hampir 1 jam sambil berdesakan di bibir koridor. Tak hanya itu, di dalam bus, saya harus berhimpitan dengan penumpang lain. Ya, stiker yang menempel di badan bus berbunyi jumlah maksimal penumpang 85 orang tidak lebih dari omong kosong.

Dibandingkan Kuala Lumpur

Kadang saya jengkel bercampur gemas ketika anggota DPR melakukan studi banding hingga ke Amerika Latin baru-baru ini. Saya tidak tahu apa yang mereka ingin pelajari di sana. Bagi saya, sebenarnya kita tak perlu jauh-jauh belajar mengurus banyak hal berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di Republik ini. Padahal, mereka tak perlu terbang jauh ke negeri seberang, sementara negara tetangga telah berhasil mengatasi masalah negerinya. Mungkin, Kuala Lumpur adalah contoh yang paling dekat dan akrab dengan kita.

Kuala Lumpur sebenarnya adalah kota metropolitian yang relatif baru dibandingkan Jakarta sebagai kota besar. Betapa pun banyak gedung-gedung pencakar langit, kita masih disuguhkan dengan taman kota dan diperlihatkan banyak pepohonan berjejer di pinggir jalan. Demikian pula, angkutan umum lebih nyaman dan memadai dibandingkan Jakarta yang tak terurus. Belum lagi, matahari seperti dengan bebas membakar penghuninya karena jarangnya trotoar yang nyaman untuk dilalui.

Kalau kita membandingkan ruang tunggu angkutan umum di Jakarta dan Malaysia, kita betul-betul menemukan suasana yang berbeda. Saya dengan tenang menunggu angkutan umum dengan harga terjangkau tanpa harus khawatir tidak mendapatkan tempat dan berdiri berdesakan. Ruang tunggu juga tak panas, sementara di koridor yang sempit dan tak ada AC membuat penumpang tak nyaman. Meski angin berhembus, tapi terasa pengap karena satu pohon kelapa yang ada di depan transit Matraman tak cukup untuk menahan hawa panas.

Lebih dari itu, busway menggunakan karcis (manual), Light Rail Transit (LRT) KL memanfaatkan kartu gesek (mechanical) sehingga kesan yang dimunculkan tampak berbeda secara mencolok. Pada yang terakhir kita dianggap manusia yang dipercayai, sementara yang pertama diawasi. Ternyata teknologi bisa kadang memanusiakan kita. Pendek kata, Kuala Lumpur secara perlahan ingin membangun masyarakat tepercaya atau trust society sebagai prasyarat dari masyarakat madani.

Segera benahi Jakarta!

Adalah aneh, ibu kota yang menampung uang hampir 80% ini tidak bisa menyediakan fasilitas yang nyaman bagi masyarakat dan pengunjungnya. Ironinya, setiap hari kita disuguhi dialog, opini dan rekomendasi di media, seminar dan sarasehan bagaimana menciptakan Jakarta lebih baik, tetapi pada saat yang sama, kita menemukan ibu kota yang semrawut, centang perenang dan tak ramah bagi pejalan kaki.

Belum lagi, kanal Timur yang sedang dalam penyelesaian, saya lihat pengerjaannya tak dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga mungkin tak akan selesai dalam waktu dekat. Ini jelas akan mengakibatkan ‘hantu’ banjir akan menenggelamkan sebagian kawasan. Sebuah ironi yang lain. Bencana ini tentu menghapus seketika kepongahan Jakarta sebagai pusat berkumpulnya orang-orang terpilih dari seluruh negeri.

Kegagalan Jakarta untuk mengubah dirinya seakan menempalak ‘wajah’ cantik kota metropolitan yang diterakan dalam latar iklan berbagai produk dan film. Ibu kota ini akhirnya dikapling untuk menjadi pusat orang yang mempunyai uang dengan dibangunnya kota baru di lokasi strategik dan pinggiran yang dilengkapi fasilitas publik lengkap. Sementara, di sebagian besar kawasan kita menyaksikan kekumuhan berserak di mana-mana. Inilah yang membuat saya enggan ‘menjual’ Jakarta pada teman-teman mahasiswa asing di Malaysia. Serta merta, saya bilang agar mereka datang ke Bali atau Yogyakarta saja, jangan Jakarta! Ternyata, hal yang sama juga dirasakan oleh Badrun dan Stenly, mahasiswa Indonesia di negeri jiran.

Boro-boro wisatawan menikmati pesona Jakarta, baru saja mereka menginjakkan kaki di pintu keluar bandara internasional, mereka akan melihat kesemrawutan. Dibandingkan dengan terminal udara di Pulau Pinang saja, apalagi Kuala Lumpur, Bandara Soekarno Hatta bukan tempat yang nyaman untuk memulai perjalanan dan pelesiran di ibu kota. Kadang saya bergumam, betapa naifnya pemerintah menghamburkan uang untuk mencanangkan Visit Indonesia 2008, sementara sarana pendukung tak mampu menyangganya.

Peter Marcuse (2002:102) menegaskan bahwa kota itu terdiri dari zona bisnis, kekuasaan, industri dan perumahan di dalam kawasannya masing-masing, untuk menghasilkan sebuah kesatuan dengan sejumlah dimensi, satu sama lain berkaitan dan sebangun, cabang-cabangnya saling bergantung. Dari uraian ini, Jakarta sebenarnya gagal untuk disebut sebagai kota. Hampir-hampir perumahan bukan merupakan bagian dari cetak biru besar itu. Betapa miris saya melihat banyak warga tinggal di perumahan yang buangan kamar mandi dibuang ke selokan kecil di depan rumah dan menuju sungai. Selain bau dan mengundang nyamuk, kenyamanan mereka menikmati waktu senggang terganggu.

Selama seminggu di Jakarta, saya merasa tidak nyaman menikmati wajah Jakarta. Jika kemudian saya meriang adalah wajar, dan ini tidak dialami ketika saya pernah tinggal di Kuala Lumpur dalam rentang waktu yang sama. Tapi, saya merasa lebih tidak nyaman mendengar para sarjana dan pemimpin elit di Jakarta bermanis-manis di layar kaca menggagas Indonesia yang permai, sementara di rumahya sendiri mereka tidak berdaya mengatasi masalahnya. Jadi, sudah saatnya mereka tak banyak bicara, segera benahi Jakarta!

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen