Kuras-Kuras Kreatif

Kemarin, saya mencomot buku Kuras-Kuras Kreatif yang ditulis sastrawan Azizi Haji Abdullah (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2007). Sebuah catatan perjalanan kepenulisan sebagai pengarang produktif dalam bidang sastra di tanah Melayu. Meskipun tidak mempunyai pengetahuan teori sastra, beliau menulis sebagai pemenuhan rasa. Sesuatu yang kemudian melahirkan sejumlah cerita pendek dan novel.

Ternyata, kegigihan penerima anugerah S.E.A Write Award ini memantik rasa penasaran saya karena putera kelahiran Kedah ini memanggul beban yang amat berat jika tidak bisa menakwilkan peristiwa menjadi sebuah tulisan. Lalu, dengan serta merta, dia pergi dari rumah meninggalkan isteri untuk satu atau dua hari tinggal di hotel menyelesaikan kehendak mengubah kenyataan menjadi fiksi. Malah, dia blusukan tempat pelacuran karena terpengaruh Chairil Anwar bahwa seorang sastrawan mesti bohemian dan menabrak kelaziman. Secara tersirat juga, ada banyak perempuan dalam proses kreatif kepengarangannya sehingga mereka seperti pendorong kuat untuk terus menulis.

Di dalam buku ini juga, penulis novel Senja Belum Berakhir membela diri bahwa karyanya ini bukan jiplakan dari karangan Toha Muchtar, sastrawan Indonesia, berjudul Pulang. Diakui bahwa novel ini memang telah dibaca dan memberikan ilham dalam mengarang novel di atas. Selain itu, dengan penuh takzim, bekas guru sekolah agama ini mengakui bahwa Shahnon Ahmad, sastrawan terkemuka Malaysia, telah menjadi guru yang baik dalam bidang penulisan. Tambahan lagi, dia juga banyak membaca karya-karya Pramodya Ananta Toer.

Comments

Popular Posts