Sesederhana Makan Sayur Oseng

kemarin saya memasak sayur oseng, yang merupakan jenis sayur paling mudah dan sering saya hidangkan karena isteri beristirahat dari kegiatan dapur. Bahannya tidak rumit, hanya irisan bawang putih, bawang merah, garam, gula dan potongan kecil kacang panjang. Ditambah goreng tempe dan telor serta krupuk, berbuka puasa kemarin menyisakan kepuasaan tiada tara. Malah, keenakannya mengalahkan pengalaman makan steak di restoran The Ship yang mahal itu.

Jika urusan perut sesederhana ini, apalagi yang dicari dalam hidup? Saya tidak memerlukan wisata kuliner untuk memanjakan lidah, sebab pemenuhan kebutuhan gizi dengan pola makan seperti ini sudah genap. Apalagi, saya menambahkan dengan bubur kacang ijo dan buah semangka sebagi penutup. Dengan demikian, mungkin asupan batin yang masih belum disempurnakan sehingga ada gelisah yang selalul menyeruak?

Puasa kali ini tentu seperti dulu, keberhasilan menahan makan dan minum, yang bisa diukur dengan pasti. Lalu, bagaimana dengan kemenangan mengatasi nafsu? Rasa malas dan sifat buruk lain mungkin penghalang yang paling besar dalam mewujudkan ketenangan batin. Jika, saya telah mengenal rintangan menuju ketentraman, makan sudah waktunya diri ini melatih untuk tidak bosan menebar kehangatan terhadap hidup.

Bagi saya, tinggal di sebuah flat dengan ragam latar belakang budaya membuat kami terasa 'asing', namun hanya senyum dan sapa hangat yang akan meluruhkan. Kehendak untuk berbuat kebaikan tidak menuntut banyak dari kita, hanya keikhlasan untuk tidak memanjakan prasangka. Lalu, masing-masing sibuk dengan hidupnya sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen