Menyampaikan Kritik dengan Kelakar

Saya telah mengagendakan untuk menghadiri Seri Sejarah Lisan Penerbit USM jauh-jauh hari. Untuk ke-6 Kalinya saya mengikuti kesaksian dari mereka yang pernah terlibat dengan universitas yang berjuluk Kampus dalam Taman. Kali ini Tan Sri Dato Hj Ani bin Arope mengupas hal ihwal USM sebagai ketua lembaga pengarah yang telah dilakoninya sejak 1992/1993. Pengalamannya yang bejibun, dari tingkat lokal hingga internasional menyebabkan tokoh ini melihat persoalan dari perspektif yang kaya.

Pembukaan ceramah yang dibuka dengan anekdot orang Kelantan pergi ke London dan terpaksa tidak menggunakan toilet umum karena tertulis Male. Kata yang terakhir ini dalam dialek Kelantan merupakan penyebutan kata malam, sehingga yang bersangkutan berpikir bahwa toilet tersebut hanya digunakan untuk malam saja. Saya pun tergelak dan mendapatkan suguhan cara bertutur yang merangsang keterlibatan lebih jauh dengan ceramah.

Ternyata, isinya memang menyentak karena menyentuh masalah yang jarang diungkap, yaitu hubungan antara etnik di kampus, dan tentu sebagai cermin dari keadaan sosial lebih luas. Namun demikian, kritik internal itu saya lihat sebagai bentuk kecintaan beliau untuk meletakkan pondasi yang kokoh bagaimana kampus menjadi peneraju hubungan yang harmoni dan tentu ini harus diletakkan dalam sikap terbuka dan saling menjaga. Memang tidak dapat dielakkan bahwa budaya 'sate' yang beliau jelaskan menyebabkan pengurusan banyak hal terhambat karena ada sekelompok orang yang selalu mencucuk dan mengipasi keadaan.

Bagi saya, ini adalah siri yang menampilkan warna lain karena beliau menyatakan bahwa keterbukaan itu pernah dialami semasa bersekolah dan kuliah. Pendek kata, perubahan itu sebenarnya mempunyai rujukan internal yang mungkin perlu diwujudkan kembali untuk meraih kemajuan. Tahniah, Tan Sri, saya menemukan kedamaian dalam acara itu.

Comments

Popular Posts